REPUBLIKA.CO.ID, SEMARANG -- Produsen tahu dan tempe di Kota Semarang, Jawa Tengah, mencemaskan pelemahan nilai rupiah terhadap dolar AS. Mereka khawatir, hal tersebut akan kian melambungkan harga kedelai yang sudah mengalami kenaikan bertahap sejak awal tahun ini.
Pengusaha produsen tempe di Pandean Lamper, Kecamatan Gayamsari, Kota Semarang, Adib Mukharam, saat ini harga kedelai sudah mencapai Rp10.500 per kilogram. Padahal pada awal 2026, harganya masih di kisaran Rp8.000 per kilogram. Dalam sebulan terakhir, kenaikan harga kedelai sekitar Rp250.
"Jadi naiknya (harga kedelai) sudah cukup signifikan, sekitar 25 persen dalam waktu empat bulan terakhir," kata Adib ketika ditemui lokasi pengolahan tempe miliknya, Selasa (19/5/2026).
Adib menerangkan, dalam sehari, usaha pembuatan tempenya membutuhkan pasokan antara 500-600 kilogram kedelai. Dengan kenaikan harga kedelai, Adib harus menambah modal atau biaya produksi.
Dia mengungkapkan, tak hanya kedelai, harga plastik pun saat ini melonjak tajam. Hal itu turut menekan para produsen tempe. "Plastik itu biasanya kita beli Rp550 ribu per rol. Sekarang harganya Rp1.150.000 per rol," ujarnya.
Karena harga kedelai dan plastik melambung, Adib terpaksa harus menaikkan harga jual tempenya sekitar seribu rupiah per bungkus atau papan. Guna mencegah harga jual meroket tinggi, Adib juga mengurangi porsi tempe per bungkusnya.
"Jadi kita bikin ukurannya lebih kecil supaya harganya lebih terjangkau," ujar Adib.
Dia mengaku khawatir harga kedelai akan kembali mengalami kenaikan akibat melemahnya nilai rupiah terhadap dolar AS. "Kalau lihat potensi kenaikan harga, kemungkinan besar makin naik. Karena kurs (dolar AS) kelihatannya makin naik. Kedelai kita kan mayoritas memang impor, jadi mau tidak mau kita ngikutin harga dari importirnya," ucapnya.
Adib mengatakan, sebagai produsen, dia bisa saja menyesuaikan harga jual dengan harga bahan baku. "Yang jadi pertanyaan, ketika harga-harga kayak makanan semuanya naik, tapi ternyata ekonomi yang belinya juga turun, akhirnya kan daya beli jadi turun," ujarnya.
Dia berharap ada tindakan konkret dari pemerintah agar pelemahan rupiah terhadap dolar AS tidak terus berlanjut. "Kalau bisa ditekanlah dolarnya. Bukan masalah kita orang desa atau orang kota, kita produsen itu kan bergantung juga sama impor," ucap Adib.

11 hours ago
9














































