Saat Kemenag Tolitoli Hadirkan Mimpi Rumah Layak Huni

23 hours ago 5

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Di Desa Abbajareng, Kecamatan Dampal Selatan, Kabupaten Tolitoli, Sulawesi Tengah, ada sebuah mimpi sederhana yang sering kali terbentur realitas keras: memiliki atap yang kokoh untuk berteduh.

Bagi sebagian warga di sana, rumah bukan sekadar bangunan, melainkan marwah kehidupan yang sering kali sulit digapai. Namun, di tengah keterbatasan itu, secercah harapan datang melalui tangan-tangan aparatur sipil negara (ASN) Kementerian Agama (Kemenag) yang berkolaborasi mewujudkan hunian layak pertama bagi mereka yang membutuhkan.

Program bedah rumah adalah sebuah inisiatif sosial dan kemanusiaan yang bertujuan merenovasi atau membangun ulang rumah-rumah yang kondisinya tidak layak huni. Fokus utama program ini adalah membantu masyarakat dari kalangan prasejahtera atau menjadi korban bencana untuk mendapatkan hunian yang lebih aman, sehat, dan bermartabat.

Lebih dari sekadar bantuan material, bedah rumah menjadi simbol gotong royong dan kepedulian sosial yang berupaya meningkatkan kualitas hidup dan harkat kemanusiaan mereka yang paling membutuhkan.

Kantor Kemenag Kabupaten Tolitoli melaksanakan program bedah rumah perdana ini dalam rangkaian peringatan Hari Amal Bakti (HAB) Ke-80 Kemenag RI di daerah setempat. Langkah ini diambil sebagai wujud nyata pengabdian yang menyentuh langsung denyut kehidupan masyarakat.

Kepala Kantor Kemenag Kabupaten Tolitoli, Makmur Muhammad Arief, menyatakan bahwa peringatan HAB merupakan kesempatan penting bagi jajarannya untuk menghadirkan pengabdian yang dirasakan langsung oleh umat. HAB tidak boleh sekadar menjadi seremoni rutin.

Hari Amal Bakti (HAB) adalah peringatan hari jadi berdirinya Kementerian Agama Republik Indonesia, yang diperingati setiap tanggal 3 Januari. Momen ini merupakan penanda sejarah berdirinya salah satu institusi paling fundamental di Indonesia, yang bertugas mengurus urusan keagamaan dan pendidikan Islam sejak masa kemerdekaan. HAB bukan hanya perayaan, tetapi momentum refleksi bagi seluruh ASN Kemenag untuk mengevaluasi dan memperkuat komitmen pelayanan umat.

Peringatan HAB Ke-80 di Tolitoli kali ini dikemas berbeda, tidak hanya dengan upacara, namun dengan aksi nyata bedah rumah. Pesan yang ingin disampaikan oleh Kiai Makmur sangat jelas: pelayanan kepada umat dan masyarakat harus menjelma dalam bentuk aksi nyata yang dapat dirasakan manfaatnya secara langsung, melampaui batas-batas administrasi formal.

“Pelayanan kepada umat dan masyarakat harus diwujudkan dalam bentuk aksi nyata yang dapat dirasakan manfaatnya secara langsung,” kata Makmur, menekankan filosofi pengabdian yang diemban jajarannya.

Pelaksanaan program bedah rumah tersebut dilaksanakan dengan mengedepankan semangat gotong royong dan kebersamaan yang menjadi ciri khas bangsa Indonesia. Dukungan penuh dari ASN Kemenag Kabupaten Tolitoli, pemerintah daerah setempat, serta partisipasi aktif masyarakat Desa Abbajareng, menjadi bagian penting dalam terwujudnya program tersebut.

Masyarakat dhuafa mengalami impitan ekonomi, keterbatasan akses modal, dan harga bahan bangunan yang kian melambung. Bagi mereka, setiap pendapatan harian habis untuk memenuhi kebutuhan pangan primer, sehingga menabung untuk membangun rumah menjadi sebuah kemewahan yang sulit dijangkau. Program bedah rumah seperti ini hadir untuk memutus rantai kesulitan tersebut dan memberikan pijakan awal bagi kehidupan yang lebih stabil.

Makmur berharap, program bedah rumah ini dapat membantu masyarakat kurang mampu untuk memiliki hunian yang layak, sehat,, dan aman dari risiko penyakit maupun bencana. Selain itu, dia mengharapkan, kegiatan ini dapat terus menumbuhkan empati dan kepedulian sosial di kalangan ASN Kementerian Agama dalam menjalankan tugas pelayanan kepada masyarakat.

Manfaat empati dalam kehidupan berbangsa sangatlah krusial. Empati memungkinkan kita untuk saling terhubung, memahami penderitaan orang lain, dan meresponsnya dengan tindakan nyata. Dalam konteks Indonesia yang majemuk, empati adalah perekat sosial yang meredam konflik dan memupuk solidaritas, memastikan bahwa tidak ada satu pun warga negara yang merasa ditinggalkan dalam kesulitan.

Secara luas, empati ASN dalam melayani masyarakat juga menjadi kunci terciptanya tata kelola pemerintahan yang baik (good governance). Aparatur negara yang berempati akan melayani dengan hati, mengutamakan kepentingan publik di atas birokrasi yang kaku, dan memastikan rasa keadilan sosial benar-benar terwujud di setiap lini pelayanan.

Makmur juga menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah berkontribusi dalam pelaksanaan program bedah rumah, baik melalui sumbangan tenaga, pemikiran, maupun bentuk dukungan material lainnya.

Ia berharap, semangat kebersamaan dan gotong royong yang terpancar dari Desa Abbajareng tersebut dapat terus dipelihara dan menjadi penguat dalam pelaksanaan program-program sosial Kementerian Agama di Kabupaten Tolitoli pada masa mendatang, demi kesejahteraan umat yang lebih merata.

sumber : Antara

Read Entire Article
Food |