Saat Kredit Melambat, Bank Ramai Andalkan Bisnis Wealth Management

7 hours ago 6

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Gejolak pasar keuangan global mulai mengubah arah bisnis perbankan nasional. Di tengah tekanan nilai tukar rupiah, pasar saham yang fluktuatif, dan persaingan likuiditas yang makin ketat, bank kini tidak lagi hanya mengandalkan pertumbuhan kredit untuk menjaga kinerja.

Bisnis pengelolaan kekayaan atau wealth management mulai menjadi sumber pertumbuhan baru. Layanan ini tidak lagi sekadar menawarkan produk investasi, tetapi juga mencakup pengelolaan aset, proteksi, hingga perencanaan warisan keluarga.

Perubahan strategi itu terlihat dari langkah PT Bank OCBC NISP Tbk yang mengakuisisi bisnis International Wealth and Premier Banking milik HSBC Indonesia. Transaksi tersebut diperkirakan menambah lebih dari 336 ribu nasabah dan aset kelolaan hampir Rp 90 triliun ke OCBC Indonesia.

Presiden Direktur OCBC Parwati Surjaudaja mengatakan kebutuhan nasabah terhadap layanan keuangan kini berkembang lebih luas, terutama di tengah ketidakpastian ekonomi dan pasar.

“Layanan wealth management kini berkembang pada kemampuan menghadirkan solusi finansial yang lebih menyeluruh dan relevan dengan kebutuhan nasabah,” kata Parwati dalam keterangan tertulis, Rabu (13/5/2026).

OCBC melihat potensi bisnis wealth management di Indonesia masih besar, terutama dari kelompok affluent atau kelas menengah atas yang terus tumbuh. Melalui akuisisi tersebut, OCBC ingin memperkuat layanan investasi dan pengelolaan aset sekaligus memperluas basis nasabah premium.

Setelah transaksi selesai, aset kelolaan OCBC diperkirakan meningkat sekitar 25 persen. Perseroan juga memperkirakan bisnis kartu kredit tumbuh lebih dari 150 persen.

Langkah OCBC mencerminkan tren yang mulai ramai dilakukan industri jasa keuangan. Di tengah perlambatan ekonomi global dan volatilitas pasar, bank mulai memperbesar pendapatan berbasis komisi dan jasa keuangan untuk menjaga profitabilitas.

Fenomena tersebut terlihat dari semakin agresifnya lembaga keuangan memperluas layanan investasi dan pengelolaan aset dalam beberapa tahun terakhir.

Manulife, misalnya, baru menyelesaikan akuisisi Schroders Indonesia untuk memperkuat bisnis pengelolaan investasi domestik. Setelah transaksi itu, Manulife Asset Management Indonesia mengelola dana investasi lebih dari Rp 124 triliun dengan lebih dari 2,5 juta nasabah.

Sementara itu, Bank DBS Indonesia bersama Manulife meluncurkan produk perencanaan warisan lintas generasi yang menyasar nasabah kelas atas. Produk tersebut hadir seiring meningkatnya kebutuhan perlindungan aset dan perencanaan kekayaan jangka panjang di Indonesia.

Meski mulai agresif menggarap bisnis wealth management, perbankan tetap menjaga pertumbuhan kredit agar ekonomi domestik tidak kehilangan momentum. Bank Mandiri, misalnya, mencatat kredit infrastruktur tumbuh 30,8 persen secara tahunan hingga Februari 2026 menjadi Rp 491,63 triliun.

Pembiayaan tersebut mengalir ke sektor jalan, transportasi, energi, hingga konstruksi yang masih menjadi penopang aktivitas ekonomi nasional.

Di saat yang sama, Bank Mandiri juga berhasil menerbitkan obligasi global senilai 750 juta dolar AS di tengah gejolak geopolitik global. Obligasi tersebut mengalami kelebihan permintaan hingga 3,3 kali, menunjukkan minat investor asing terhadap sektor perbankan Indonesia masih cukup kuat.

Read Entire Article
Food |