Orang-orang melewati store Samsung di Korea Selatan (ilustrasi). Samsung dikabarkan tengah menguji baterai smartphone dua-cell berbasis silicon-carbon dengan kapasitas total 20.000mAh.
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Samsung dikabarkan tengah menguji baterai smartphone berkapasitas sangat besar. Menurut laporan, raksasa teknologi asal Korea Selatan tersebut tengah menguji baterai smartphone dua-cell berbasis silicon-carbon dengan kapasitas total 20.000mAh.
Dalam beberapa tahun terakhir, kapasitas baterai 7.000mAh hingga 8.000mAh mulai menjadi hal umum, bahkan produsen asal China seperti Honor telah meluncurkan ponsel dengan baterai di atas 10.000mAh. Lonjakan ini sebagian besar didorong oleh adopsi teknologi silicon-carbon battery, yang memungkinkan kepadatan energi lebih tinggi dibanding baterai lithium-ion konvensional.
Samsung dan Apple selama ini dinilai tertinggal dalam adopsi teknologi tersebut. Namun, laporan terbaru menunjukkan Samsung mulai ikut bersaing dalam perlombaan baterai besar.
Baterai yang diuji Samsung dilaporkan terdiri atas dua sel dengan ukuran berbeda. Dilansir laman Gizmochina, Sabtu (3/1/2026), sel pertama memiliki kapasitas 12.000mAh dengan ketebalan sekitar 6,3 mm, sementara sel kedua berkapasitas 8.000mAh dengan ketebalan 4 mm. Jika digabungkan, total kapasitasnya mencapai 20.000mAh.
Sebagai perbandingan, satu sel baterai 12.000mAh saja sudah melampaui baterai 10.000mAh yang saat ini digunakan pada ponsel kelas ekstrem seperti seri Honor Win. Hal ini menunjukkan Samsung kemungkinan sedang menguji kapasitas yang bahkan melebihi standar tertinggi saat ini.
Menurut seorang sumber, konfigurasi baterai tersebut secara teori mampu memberikan hingga 27 jam penggunaan layar dan bertahan sekitar 960 siklus pengisian daya per tahun. Namun demikian, baterai tersebut juga menyoroti masalah serius terkait daya tahan. Dalam proses pengujian, baterai itu dilaporkan mengalami pembengkakan, yang menimbulkan kekhawatiran terhadap stabilitas dan keamanan.
Sumber lain menyebutkan sel 8.000mAh mengalami peningkatan ketebalan signifikan, dari 4 mm menjadi 7,2 mm setelah pengujian. Kondisi ini dinilai sebagai tanda bahaya serius untuk penerapan pada smartphone.
Meski performa awal disebut menjanjikan, masalah pembengkakan menunjukkan bahwa teknologi ini belum siap untuk produksi massal. Hingga saat ini, Samsung belum memberikan pernyataan resmi terkait laporan tersebut.

1 week ago
10











































