Ismail Suardi Wekke
Agama | 2026-01-02 21:31:44
Kampus Mangkoso (Photo PB DDI)
Mangkoso - Langkah kaki santriwati yang bergegas menuju masjid saat azan asar berkumandang menciptakan irama khas di tanah Sulawesi Selatan. Di bawah bayang-bayang pohon jati dan hembusan angin pesisir, sayup-sayup terdengar lantunan ayat suci dan hafalan kitab kuning yang menggema dari bilik-bilik asrama.
Bagi masyarakat Bugis,, pemandangan ini bukan sekadar rutinitas agama, melainkan napas kehidupan yang telah menjadi ritme kehidupan selama berabad-abad. Sesore ini beranjak meninggalkan Bulu Lampang dengan melihat putri-putri kami berjalan ke asramanya.
Di sebuah sudut Kabupaten Barru, tepatnya di Mangkoso, sejarah seolah berhenti sejenak untuk memberi penghormatan pada sebuah lembaga bernama DDI Mangkoso. Didirikan oleh Anreggurue (AGH) Abdurrahman Ambo Dalle, tempat ini bukan hanya sekumpulan gedung beton, melainkan rahim yang melahirkan ribuan pemikir dan ulama.
Di sini, nilai-nilai keislaman berkelindan erat dengan kearifan lokal Siri’ na Pesse, membentuk karakter manusia yang teguh memegang prinsip namun tetap lembut dalam budi pekerti. Dalam perjalanannya, menjadi dengan nama Darul Dakwah Wal Irsyad.
Malam hari di pesantren-pesantren Sulawesi Selatan menghadirkan suasana yang magis. Di bawah cahaya lampu yang temaram, para santri duduk bersila mengelilingi seorang Gurutta dalam tradisi mangaji kitab.
Tidak ada sekat antara sang guru dan murid; yang ada hanyalah transfer energi intelektual dan spiritual. Suasana kekeluargaan ini menjadi benteng pertahanan terakhir melawan arus modernitas yang kian menggerus nilai-nilai tradisionalitas di luar pagar pesantren.
Namun, pesantren di Sulawesi Selatan tidaklah statis. Di pesisir Bone hingga perbukitan Gowa, kita akan melihat transformasi yang luar biasa. Santri kini tidak hanya memegang tasbih, tetapi juga jemari mereka lincah menari di atas papan ketik komputer.
Mereka berdiskusi tentang ekonomi syariah di pagi hari dan mempraktikkan teknik pertanian modern di sore hari. Perpaduan antara tradisi salaf dan tuntutan zaman khalaf menciptakan harmoni pendidikan yang unik dan dinamis.
Perjalanan mengenal pesantren di Sulawesi Selatan adalah perjalanan menyelami identitas. Ia adalah oase di tengah gersangnya moralitas zaman, tempat di mana "sipakatau" (saling memanusiakan), "sipakainge" (saling mengingatkan), dan "sipakalebbi" (saling menghargai) dipraktikkan secara nyata. Pesantren bukan sekadar institusi pendidikan; ia adalah penjaga gawang peradaban yang memastikan bahwa cahaya ilmu dari ujung selatan Nusantara ini tidak akan pernah padam.
Analisis Peran dan Evolusi Pesantren di Sulawesi Selatan
Sulawesi Selatan secara historis merupakan salah satu episentrum penyebaran Islam di Indonesia Timur. Keberadaan Pondok Pesantren (Ponpes) di wilayah ini memiliki karakteristik unik yang membedakannya dengan pesantren di Pulau Jawa, terutama dalam hal integrasi budaya lokal dan struktur kepemimpinan ulama yang sangat hierarkis namun egaliter dalam pelayanan sosial.
Dilihat dari tipologinya, pertumbuhan pesantren di wilayah ini terbagi ke dalam tiga model utama yang berjalan beriringan. Pertama adalah model tradisional atau Salafiyah yang tetap setia menitikberatkan pengajaran pada pengkajian kitab-kitab klasik melalui sistem sorogan.
Kedua, model modern atau Khalafiyah yang mulai mengadopsi kurikulum klasikal serta penguasaan bahasa asing seperti Arab dan Inggris. Terakhir adalah model integratif yang mencoba menggabungkan kurikulum nasional dengan pemberdayaan ekonomi masyarakat, menciptakan ekosistem pendidikan yang lebih komprehensif.
Dalam struktur sosial masyarakat Sulawesi Selatan, peran figur pimpinan pesantren yang dikenal dengan sebutan Anreggurue (AGH) sangatlah sentral. Figur ini bukan hanya bertindak sebagai pemimpin institusi pendidikan, tetapi juga menjadi rujukan moral dan sosial bagi masyarakat luas.
Kharisma seorang Anreggurue menjadi magnet utama yang mampu menarik minat santri dari berbagai pelosok Nusantara, menjadikan pesantren sebagai pusat gravitasi spiritual di Sulawesi Selatan. Maka, mengantar anak-anak ke pesantren, salah satunya dengan melihat figur AG sebagai pimpinan pondok.
Keberhasilan pesantren di wilayah ini juga terletak pada kemampuannya dalam melakukan integrasi budaya atau pribumisasi Islam. Nilai kearifan lokal seperti Siri' (harga diri) ditransformasikan menjadi benteng moral untuk menjauhi maksiat, sementara nilai Pesse (empati) diwujudkan dalam semangat solidaritas antar sesama santri.
Hal ini membuktikan bahwa pesantren mampu menjadi jembatan yang menghubungkan antara ajaran teologis dengan realitas sosiologis masyarakat setempat. Sehingga tidak terserabut dari lingkungannya.
Menghadapi situasi era industri, pesantren di Sulawesi Selatan mulai berakselerasi dengan melakukan inovasi digital. Berdasarkan pengamatan terhadap data Kementerian Agama, terdapat tren positif dalam pengembangan unit usaha mandiri, mulai dari sektor pertanian hingga jasa digital.
Langkah ini diambil sebagai upaya untuk menjaga kemandirian finansial lembaga sekaligus membekali para santri dengan keterampilan kewirausahaan agar mereka siap menghadapi dinamika global setelah menyelesaikan masa studinya.
Penutup
Pondok Pesantren di Sulawesi Selatan tetap menjadi pilar utama dalam mencerdaskan kehidupan bangsa di wilayah timur Indonesia. Dengan tetap memegang teguh sanad keilmuan tradisional namun terbuka terhadap inovasi teknologi, pesantren-pesantren ini membuktikan diri sebagai institusi yang adaptif dan relevan dalam menjawab tantangan zaman tanpa kehilangan jati diri religiusnya.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

5 hours ago
4









































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5344879/original/037827700_1757495713-Kota_Semarang.jpg)





