REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) langsung ambruk pada awal perdagangan Kamis (29/1/2026). Setelah dibuka di level 8.027, IHSG terjun tajam dan pada pukul 09.20 WIB anjlok 7,09 persen atau 590,22 poin ke posisi 7.730,33. Penurunan tersebut menjadi syarat pertama dilakukannya trading halt selama 30 menit ke depan.
Tekanan jual mendominasi pasar sejak menit pertama perdagangan. IHSG bergerak pada rentang 7.724,42 hingga 8.049,10. Nilai transaksi mencapai Rp 9,27 triliun dengan volume 11,02 miliar saham. Sebanyak 641 saham melemah, hanya 39 saham menguat, dan 28 saham stagnan, menandakan tekanan terjadi secara luas.
Pelemahan tajam sejak pembukaan mencerminkan meningkatnya risiko sistemik di pasar saham domestik. Aksi jual asing yang berlanjut, penyesuaian indeks Morgan Stanley Capital International (MSCI), serta tekanan pada saham-saham berkapitalisasi besar membuat pelaku pasar cenderung mengurangi eksposur terhadap aset berisiko dalam jangka pendek.
Kondisi tersebut dinilai membuka ruang pelemahan lanjutan apabila tidak segera terjadi stabilisasi. Kepala Riset Ritel BNI Sekuritas Fanny Suherman mengatakan tekanan terhadap IHSG masih berpotensi berlanjut.
“IHSG berpotensi masih melanjutkan pelemahan hari ini, efek dari pengumuman MSCI kemarin dengan target koreksi di sekitar 8.050–8.100,” ujar Fanny, Kamis (29/1/2026).
Menurutnya, area tersebut akan menjadi penentu arah pergerakan IHSG berikutnya. “Jika mampu bertahan di area tersebut, IHSG berpotensi rebound,” kata Fanny.
Namun, selama tekanan jual belum mereda, volatilitas pasar dinilai tetap tinggi. Secara teknikal, BNI Sekuritas menempatkan area support IHSG di kisaran 8.050–8.100 dan resistance di level 8.350–8.400. Pergerakan IHSG ke depan akan sangat ditentukan oleh respons investor terhadap tekanan asing serta stabilitas saham-saham perbankan berkapitalisasi besar.
Di tengah kondisi pasar yang masih rentan, BNI Sekuritas merekomendasikan strategi selektif dengan memanfaatkan peluang jangka pendek pada sejumlah saham. Saham HRTA direkomendasikan speculative buy di area 2.200–2.320 dengan target terdekat 2.450–2.520 dan cut loss di bawah 2.100.
Saham ANTM direkomendasikan speculative buy di area 4.300–4.420 dengan target 4.550–4.650 dan cut loss di bawah 4.220.
Untuk sektor emas, saham EMAS direkomendasikan speculative buy di kisaran 6.850–7.000 dengan target 7.125–7.325 dan cut loss di bawah 6.800. Saham PSAB direkomendasikan speculative buy di area 580–600 dengan target 620–645 dan cut loss di bawah 575.
Sementara itu, saham ARCI direkomendasikan speculative buy di area 1.900–1.940 dengan target 1.980–2.050 dan cut loss di bawah 1.860. Saham DOOH juga direkomendasikan speculative buy di kisaran 198–206 dengan target 218–230 dan cut loss di bawah 198.

7 hours ago
5




































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5327442/original/074400200_1756181216-saus_dimsum.jpg)





:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5152422/original/035586500_1741248417-pexels-arief-setiawan-10066715.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5216300/original/079062600_1746950447-a7f30be3-5eb9-4444-9d40-752ae5318cb0.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5368914/original/007484600_1759398264-br.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5376540/original/089405700_1760007517-crio_new_menu-0293e.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5275054/original/013394900_1751863195-powell-rasull-7YFfGE26kbs-unsplash.jpg)