REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Seorang ulama besar, Imam Nawawi, pernah mengatakan, niat seseorang dalam beribadah dapat dikategorikan dalam beberapa tingkatan.
Pertama, melakukan suatu perintah karena takut kepada Allah SWT. Dalam arti, orang ini takut terhadap siksa-Nya. Level ini dapat dibenarkan karena cukup banyak ayat Alquran atau hadis Rasulullah SAW yang mengisyaratkan perlunya rasa takut (khauf) dalam menjalankan perintah Allah Ta'ala. Orang yang melaukan ibadah dengan niat demikian bak hamba sahaya terhadap Tuannya.
Kedua, melakukan kewajiban agama dalam rangka berupaya mencari keuntungan. Keuntungan yang dimaksud adalah pahala dari Allah SWT. Ujungnya, surga yang dijanjikan-Nya. Sikap seperti ini pun dibolehkan dalam beribadah. Sebab, cukup banyak ayat Alquran dan hadis Nabi SAW yang membenarkan sikap demikian.
Ketiga, melaksanakan ibadah karena rasa malu kepada Allah. Orang dalam level niat ini semata-mata menjalankan perintah-Nya sebagai manifestasi dari syukur kepada Allah SWT. Begitu pula, ia selalu merasa dirinya rendah di hadapan Allah. Hatinya dipenuhi rasa rindu (raja' ) kepada Rabb semesta alam.
Inilah tipe ibadah yang berkualitas ikhlas; level tertinggi sebagaimana yang dicontohkan Rasulullah SAW.
Suatu ketika, Aisyah bertanya, "Ya Rasulullah, mengapa engkau selalu melaksanakan shalat malam hingga kakimu menjadi lecet? Bukankah Allah telah mengampuni dosamu yang telah lalu dan akan datang?"
Beliau menjawab, "Apakah aku tidak boleh menjadi hamba yang pandai bersyukur kepada Rabb-ku."
Nyatalah bahwa kualitas ikhlas tertinggi dibuktikan niat yang tertinggi pula. Niatan itu semata-mata mengharapkan ridha Allah Ta'ala. Niat yang disertai rasa syukur dan rindu kepada-Nya.
Bukan hanya ibadah mahdhah
Dalam pandangan Islam, hubungan ibadah ritual dan akhlak sosial bagaikan ruh dan jasad pada diri manusia. Keduanya tidak dapat dipisahkan. Jika salah satu dari keduanya tidak ada, namanya bukan lagi manusia.
Demikian juga hubungan ibadah ritual dengan akhlak sosial. Keduanya tidak boleh dipisahkan. Satu sama lain harus saling berhubungan.
Shalat yang baik mesti melahirkan kesadaran berzakat, infak, dan akhlak baik. Alquran menegaskan hal itu. "Dan dirikanlah shalat dan tunaikan zakat" (QS al-Baqarah: 110).
Salah satu indikator kedekatan seorang hamba dengan Tuhannya adalah mendapatkan pertolongan dari-Nya. Caranya tidak sekadar beribadah ritual, tetapi juga sosial. Nabi Muhammad SAW bersabda, "Allah akan senantiasa menolong hamba-Nya sepanjang hamba tersebut menolong saudaranya" (HR Muslim).
sumber : Hikmah Republika oleh Firdaus dan H Karman