Tiga Tanda Burnout yang Sering Diabaikan Pekerja, Nomor Dua Paling Berbahaya

13 hours ago 10

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Banyak pekerja mengira dirinya hanya lelah. Padahal, ketika semangat kerja terus menurun, energi terasa terkuras sejak pagi, dan pekerjaan tak lagi memberi kepuasan, bisa jadi yang terjadi bukan sekadar kelelahan biasa, melainkan burnout.

"Enggak punya tenaga, enggak mau bangun, mendingan merem lagi." Begitulah gambaran yang kerap ditemui pada pekerja yang mulai mengalami burnout, menurut psikiater Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Cipto Mangunkusumo (RSCM), dr Adhitya S Ramadianto, SpKJ(K). Bahkan sebelum berangkat ke kantor, mereka sudah membayangkan kapan bisa pulang.

Namun, rasa lelah ternyata hanya permulaan. Adhitya menjelaskan, tanda pertama burnout adalah emotional exhaustion atau kelelahan emosional. Kondisi ini membuat seseorang merasa energi fisik dan mentalnya terkuras habis. Yang menarik, rasa lelah tersebut sering kali tidak sebanding dengan beban kerja yang dihadapi. Lalu apa yang terjadi ketika kondisi itu terus berlangsung?

Gejala kedua adalah depersonalisasi, yaitu ketika seseorang tidak lagi hadir sepenuhnya secara mental dalam pekerjaannya. Kondisi ini banyak ditemukan pada profesi yang menuntut interaksi intens dengan orang lain, seperti tenaga kesehatan, petugas layanan pelanggan, maupun pekerja sektor jasa.

Perubahannya kadang tidak disadari. Seseorang yang biasanya ramah mulai menjadi datar. Kesabaran berkurang. Orang-orang yang dilayani perlahan dipandang hanya sebagai daftar pekerjaan yang harus segera diselesaikan. Bukan karena berniat buruk, melainkan karena energi emosional yang tersisa sudah sangat terbatas. Tetapi burnout belum berhenti sampai di situ.

Ketika kelelahan berlangsung berkepanjangan, muncul gejala ketiga yang disebut lack of personal achievement atau hilangnya rasa pencapaian. Pekerja tetap datang ke kantor, menyelesaikan tugas, memenuhi target, bahkan lembur. Namun setelah semuanya selesai, tidak ada rasa puas ataupun bangga terhadap hasil yang telah dicapai. Yang tersisa hanya rasa capek.

"Kita sudah capai-capai kerja sekian jam di kantor, tapi kok pulang-pulang cuma dapat capainya saja," kata Adhitya.

Menurut dia, kondisi tersebut dapat menimbulkan rasa hampa yang semakin besar dari waktu ke waktu. Seseorang merasa terus bekerja keras, tetapi tidak lagi merasakan makna dari pekerjaan yang dijalani.

Lantas, bagaimana cara mengatasinya?

Adhitya mengatakan langkah pertama adalah mengenali sumber masalahnya. Jika burnout muncul setelah periode kerja yang sangat padat, beristirahat atau mengambil waktu untuk berlibur dapat membantu memulihkan energi.

sumber : Antara

Read Entire Article
Food |