REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA - Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) kembali melepas 132 dai terpilih pada 2026 untuk berbakti di segenap pelosok negeri.
Seremoni pelepasan para dai ke berbagai daerah tersebut berlangsung berbarengan dengan Tasyakur 55 Tahun Dakwah Pedalaman DDII di Jakarta, Sabtu (15/8/2026).
Ketua Umum Dewan Dakwah, Dr Adian Husaini, menjelaskan Program Dakwah Pedalaman yang dirintis Mohammad Natsir sejak awal-awal berdirinya DDII, 1967. Kegiatan tersebut telah menjadi bagian dari perjalanan panjang pendampingan masyarakat Indonesia.
Dia menyebutkan perjuangan dakwah pedalaman yang dirintis Mohammad Natsir harus terus diteruskan oleh generasi berikutnya. Dakwah tidak hanya menyampaikan nilai keagamaan, tetapi juga menghadirkan manfaat nyata melalui kepedulian, pelayanan, dan pendampingan masyarakat.
"Pelaksanaan dakwah pedalaman selama ini didukung oleh kaderisasi dai, kelembagaan yang berkelanjutan, serta dukungan masyarakat dan donatur melalui Laznas Dewan Dakwah," kata dia.
Dia mengungkapkan, selama 55 tahun, ribuan dai telah dikirim ke berbagai wilayah, termasuk daerah dengan keterbatasan akses pendidikan, kesehatan, dan layanan dasar. Hingga saat ini, lebih dari 10 ribu dai telah menjalankan pengabdian untuk masyarakat.
Para dai yang dikirim ini, kata dia, telah menjalani proses pendidikan yang panjang, setingkat S1 di STID Mohammad Natsir.
Dua tahun mereka dididik di asrama. Dan dua tahun aktif di masjid dan majelis taklim. "Sekarang mereka menjalani program pendidikan di lapangan, dengan terjun langsung ke tengah-tengah umat," tutur dia.
Dia menekankan para dai tidak hanya bertugas mengaktifkan masjid dan majelis, tetapi juga hadir sebagai pendamping masyarakat melalui kegiatan pendidikan, pembinaan keagamaan, pemberdayaan sosial, serta dukungan terhadap kebutuhan dasar warga di wilayah pengabdian.
Dia menjelaskan, kehadiran dai pedalaman turut berkontribusi terhadap pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB/SDGs).
Pada SDG 4 tentang Pendidikan Berkualitas, Dewan Dakwah memiliki ekosistem pendidikan yang mencakup 114 lembaga pendidikan tingkat dasar hingga menengah, 51 pesantren dan PKBM, serta 36 kampus atau instansi pendidikan tinggi dengan total 10 ribu lebih peserta didik.
"Di luar pendidikan formal, lebih dari 117.979 masyarakat telah terbebas dari buta aksara Alquran melalui program pembinaan dan pengajaran Alquran," kata dia.
Lebih lanjut, dia mengatakan kontribusi pada SDG 3 tentang Kehidupan Sehat dan Sejahtera dilakukan melalui program Nurhealth Connection yang menghadirkan layanan kesehatan berbasis telemedicine bagi masyarakat dengan keterbatasan akses layanan kesehatan.

3 hours ago
7





































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5536549/original/029350900_1774329970-pexels-elletakesphotos-5764077.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5559034/original/060735700_1776504757-pexels-loquellano-16123121.jpg)








