Zakat dan Esensi Kemerdekaan

2 hours ago 8

Oleh: Nana Sudiana, Wakil Ketua IV BAZNAS Jawa Barat

REPUBLIKA.CO.ID, Momentum 17 Agustus 2026 menjadi perhentian maknawi yang mendalam: perayaan kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-81. Di usia yang kian matang, perayaan ini memanggul bentangan cita bertajuk "Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur". Sebuah penanda luhur untuk merawat persatuan, memperkokoh kemandirian tanpa intervensi asing, serta menganyam keadilan dan kesejahteraan merata bagi seluruh rakyat tanpa terkecuali.

Namun, di balik Kibar Sang Saka dan riuh gemuruh peletup kembang api setiap kali musim perayaan tiba, selalu ada titikan sunyi yang tertinggal untuk diheningkan. Kita kerap bersorak merayakan tanggal, padahal kemerdekaan yang sahdu jauh melampaui seremoni —ia adalah hak fitrah, muara dari kebebasan yang membentang jauh dari segala bentuk tekanan, kezaliman, dan kungkungan pihak lain, baik secara lahiriah maupun batiniah.

Dalam lambaian nalar Islam, kemerdekaan (al-hurriyah) memiliki bentangan makna yang begitu luas. Kemerdekaan bukan sekadar bebas dari penjajahan fisik atau perhambaan bangsa lain, melainkan terbebasnya jiwa dari penindasan antarmanusia. Manusia dilahirkan merdeka, dan Islam menolak segala bentuk perbudakan serta kezaliman.

Kemerdekaan tertinggi adalah ketika seorang hamba tidak lagi diperbudak oleh sesama makhluk, hawa nafsu, maupun dunia. Kalimat "La ilaha illallah" sejatinya adalah kalimat proklamasi kemerdekaan jiwa —sebuah penyerahan utuh saat seseorang hanya sujud, patuh, dan taat sepenuhnya kepada Allah SWT melalui tauhid yang murni.

Sebab, seseorang belum sungguh-sungguh merdeka jika hatinya masih ditawan oleh amarah, keserakahan, rasa iri, atau cinta dunia yang berlebihan (hubbud dunya). Merdeka itu urusan kalbu yang lapang, terbebas dari kecemasan esok hari, sekaligus terbebas dari cengkeraman ketakutan kehilangan apa yang sedang kita genggam erat hari ini.

Kemerdekaan bangsa dimaknai sebagai nikmat agung sekaligus amanah suci. Kebebasan di sini bukanlah tarian tanpa batas, melainkan sarana tanggung jawab sosial untuk menenun kedamaian, sebagaimana jejak para nabi yang membebaskan kaumnya dari cengkeraman penindasan menuju kehidupan yang bermartabat dan maslahat.

Di sinilah zakat berteduh, bekerja diam-diam tanpa perlu pengeras suara. Zakat menjadi instrumen nyata yang memerdekakan jiwa-jiwa dari belenggu kefakiran menuju telaga kesejahteraan.

Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.

Read Entire Article
Food |