14 Tahun UUK DIY, Memetri Kaistimewan Jadi Ruang Kenalkan Keistimewaan kepada Anak Muda

2 hours ago 6

REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA - Memasuki 14 tahun Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2012 tentang Keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta (UUK DIY), Pemerintah Daerah DIY menggelar rangkaian Memetri Kaistimewan. Sebanyak 298 kegiatan telah digelar selama 30 hari di berbagai wilayah DIY untuk mendekatkan nilai-nilai keistimewaan kepada masyarakat, khususnya generasi muda.

Paniradya Pati Kaistimewan DIY Kurniawan mengatakan peringatan 14 tahun UUK DIY tidak semestinya hanya dimaknai dari sisi kebijakan dan kelembagaan. Keistimewaan juga berkaitan dengan nilai, budaya, pengetahuan, serta kehidupan masyarakat yang perlu terus dirawat dan dikembangkan.

Menurutnya, upaya mengenalkan keistimewaan kepada generasi muda menjadi penting karena masih banyak anak muda yang belum memahami alasan Yogyakarta menyandang status sebagai daerah istimewa. Hal itu diketahuinya ketika beberapa kali berdiskusi dengan kalangan muda mengenai sejarah dan substansi keistimewaan DIY.

"Saya banyak ketemu, terakhir saya mengadakan forum Gen Z, mereka tidak tahu Jogja itu istimewa karena apa. Kok Jogja bisa istimewa kenapa? Saya juga pernah tanya, 'Kamu tahu tidak kenapa Jogja istimewa?' Bukan sekadar karena namanya Daerah Istimewa Yogyakarta, tetapi kenapa bisa istimewa? Tidak ada yang bisa menjelaskan, bahkan sampai ke sejarah dan asal-usulnya," kata Kurniawan.

"Ini tantangan (untuk mengenalkan keistimewaan -Red). Kita itu istimewa, jadi ada sesuatu yang berbeda dari daerah lain," ucapnya.

Ia menyebut generasi muda saat ini justru lebih familiar dengan lagu populer Jogja Istimewa dibandingkan substansi historis yang melatarbelakangi penetapan keistimewaan DIY. Oleh karena itu, rangkaian Memetri Kaistimewan dikemas melalui berbagai kegiatan yang bersentuhan langsung dengan masyarakat, mulai dari budaya, edukasi, layanan publik hingga ruang kreativitas.

"Ini menjadi ruang untuk merawat sekaligus memaknai kembali keistimewaan melalui berbagai bentuk kegiatan yang dekat dengan masyarakat," ujarnya.

Adapun Memetri Kaistimewan tahun ini mengangkat tema "Mulyaning Manah, Mukti ing Bumi, Wibawaning Jagad". Tema tersebut menjadi pengingat bahwa keistimewaan tidak cukup hanya dipahami sebagai warisan sejarah, tetapi harus diwujudkan melalui perilaku, karya, pembangunan yang memberikan manfaat, serta kontribusi bersama bagi Yogyakarta.

Kurniawan mengatakan, perjalanan 14 tahun UUK DIY menjadi momentum untuk melihat bagaimana keistimewaan terus tumbuh dan hadir dalam kehidupan masyarakat. Keistimewaan, kata dia, merupakan proses yang harus terus dirawat bersama agar tetap relevan menghadapi perubahan zaman.

"Berakhirnya rangkaian peringatan Memetri Kaistimewan bukan berarti usai sudah upaya kita merawat keistimewaan," katanya.

Ia menegaskan semangat memetri perlu dilanjutkan dalam kehidupan sehari-hari.  Lebih jauh, Kurniawan menambahkan perkembangan Danais selama 14 tahun terakhir telah membuat program keistimewaan tidak lagi hanya berada di tingkat provinsi. Saat ini hampir seluruh tingkatan pemerintahan di DIY kini telah bersentuhan dengan program keistimewaan, termasuk kalurahan. Perubahan ini menjadi salah satu hasil penting dalam sejarah perjalanan Danais. 

Sementara itu, Kepala Bidang Perencanaan Pengendalian Urusan Keistimewaan Andreas Bayu Nugroho mengatakan kolaborasi menjadi bagian penting dalam pelaksanaan Memetri Kaistimewan. Menurutnya, peringatan tersebut diharapkan tidak hanya menjadi agenda pemerintah, tetapi dapat melibatkan berbagai unsur masyarakat.  Keterlibatan berbagai pihak disebutnya, dapat membuat nilai-nilai keistimewaan lebih dekat dan mudah dirasakan masyarakat.

"Sejak rangkaian peringatan dari mulai dari pembukaan, kemudian juga puncak peringatan, dan penutupan kami mengusung tema kolaborasi," ujarnya. 

Read Entire Article
Food |