UII dan Guru BK Bedah Tekanan yang Membayangi Gen Z

3 hours ago 7

REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA — Universitas Islam Indonesia (UII) resmi meluncurkan Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) Tahun Akademik 2027/2028 pada rangkaian kegiatan bersama ratusan guru Bimbingan dan Konseling (BK) dari wilayah DIY dan Jawa Tengah. Kegiatan tersebut menjadi ruang bagi UII untuk memperkenalkan PMB sekaligus memperkuat sinergi dengan sekolah melalui guru BK.

Wakil Rektor I UII Prof Riyanto mengatakan peluncuran PMB 2027/2028 menjadi salah satu rangkaian utama kegiatan tersebut. UII mengundang guru BK dari sekolah-sekolah untuk membangun komunikasi sekaligus memperkuat hubungan antara perguruan tinggi dan sekolah.

"Jadi hari ini kan UII mulai launching PMB tahun 2027 untuk Akademik 2027-2028. Jadi rangkaiannya hari ini tadi, kita kan mengundang guru BK dari DIY datang," ujar Riyanto pada di sela kegiatan Seminar Guru BK bertema 'Mind the Gap: Menjembatani Ekspektasi dan Realita Gen Z' di Ruang Teatrikal Lantai 2, Gedung Kuliah Umum Prof. Sardjito, Kampus Terpadu UII, Selasa (15/9/2026). 

Menurut Riyanto, sinergi dengan guru BK penting karena guru BK berhubungan langsung dengan siswa yang sedang mempersiapkan pilihan pendidikan setelah menyelesaikan jenjang SMA, SMK, maupun MA.

"Harapannya kita tetap harus bersinergi antara guru BK di sekolah-sekolah dengan UII," katanya.

Melalui hubungan tersebut, UII juga dapat menyampaikan informasi mengenai penerimaan mahasiswa baru dan pilihan pendidikan yang tersedia kepada calon mahasiswa.

"Terutama tentang informasi UII untuk siswa-siswa SMA, SMK dan MA," ujar Riyanto.

Dalam rangkaian kegiatan tersebut, UII juga memberikan apresiasi kepada 10 sekolah yang memberikan jumlah mahasiswa terbanyak pada PMB UII 2026. Pemberian apresiasi menjadi salah satu bentuk penghargaan sekaligus upaya menjaga hubungan UII dengan sekolah.

Selain memperkenalkan PMB, UII mengangkat persoalan yang dekat dengan kehidupan siswa melalui seminar mengenai generasi Z. Dosen Fakultas Psikologi UII, Libbie Annatagia, mengatakan tema Mind the Gap dipilih untuk membahas kesenjangan antara ekspektasi dan realita yang dihadapi Gen Z.

Menurut Libbie, generasi Z memiliki sejumlah keunggulan sebagai generasi yang tumbuh bersama teknologi. Mereka dinilai fasih menggunakan teknologi, kreatif, dan memiliki perhatian terhadap isu-isu global.

"Gen Z itu digital natives, jadi Gen Z digital natives artinya sangat paham, fasih dengan penggunaan teknologi," ujar Libbie.

Namun, di balik berbagai keunggulan tersebut, Gen Z juga menghadapi sejumlah tantangan. Ketergantungan terhadap teknologi dan media sosial, fear of missing out (FOMO), keinginan mendapatkan hasil secara instan, hingga persoalan kesehatan mental menjadi tantangan yang perlu dipahami.

"Gen Z ini kan sering disebut juga dengan strawberry generation. Jadi generasi strawberry yang dari luar kemasannya menarik, tapi memang terkadang ada kerapuhan di dalamnya," kata Libbie.

Libbie menjelaskan tekanan yang dialami remaja dapat bersumber dari tekanan akademik, persoalan pertemanan, dan penilaian sosial. Faktor ekonomi dan lingkungan juga dapat memperberat tekanan yang dihadapi siswa.

Untuk membantu siswa mengelola tekanan, guru BK dapat mengenalkan strategi coping adaptif. Strategi tersebut dapat dilakukan melalui pengelolaan emosi, pendekatan kognitif, maupun pendekatan religius.

Pengelolaan emosi dapat dilakukan melalui relaksasi, mengatur pernapasan, maupun bercerita kepada teman atau keluarga. Sementara pendekatan kognitif dilakukan dengan membantu siswa melihat persoalan dan mencari alternatif strategi penyelesaian masalah.

Menurut Libbie, guru BK memiliki peran penting dalam mendampingi Gen Z. Peran tersebut tidak hanya dilakukan ketika siswa menghadapi persoalan, tetapi juga dalam membantu siswa menentukan arah dan mengembangkan potensinya.

"Ada beberapa peran yang bisa diambil oleh guru BK. Yang pertama itu peran sebagai navigator arah," ujarnya.

Selain sebagai navigator, guru BK dapat berperan sebagai fasilitator dan pendamping tumbuh, mediator antara siswa, sekolah, dan orang tua, serta menjadi safe anchor bagi siswa.

"Guru BK bisa jadi safe anchor, itu menjadi tempat yang aman dan nyaman untuk bisa siswa itu bercerita," kata Libbie.

Seminar tersebut tidak hanya menjadi ruang pemaparan materi. Guru BK juga dapat berbagi pengalaman yang mereka temui secara langsung di lingkungan sekolah sehingga hasil riset dapat dipertemukan dengan kondisi di lapangan.

Melalui peluncuran PMB 2027/2028 yang dirangkai dengan seminar guru BK, UII tidak hanya memperkenalkan penerimaan mahasiswa baru, tetapi juga membuka ruang kolaborasi dengan sekolah. Pertemuan tersebut menjadi bagian dari upaya UII membangun hubungan dengan guru BK sekaligus memahami kebutuhan dan tantangan siswa dalam menentukan pendidikan lanjut.

Read Entire Article
Food |