REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Langit geopolitik global hari ini tidak lagi tenang. Di balik lonjakan harga minyak, kapal-kapal yang menghindari Selat Hormuz, dan retaknya solidaritas sekutu Barat, tersimpan satu pertanyaan besar: apakah dunia sedang menyaksikan krisis energi, atau justru rekayasa strategis yang lebih dalam?
Tiga tulisan dari media arus utama internasional menghadirkan potret yang berbeda, namun saling berkelindan. Dari analisis pasar energi, kritik politik Rusia, hingga pembacaan strategi global, semuanya mengarah pada satu tema sentral: peran Amerika Serikat dalam membentuk, atau memanfaatkan, krisis global.
Analis pasar Azhar Azam dalam tulisannya di CGTN melihat krisis energi bukan sekadar dampak perang, melainkan konsekuensi dari kebijakan strategis Washington. Ia menilai bahwa serangan terhadap Iran telah mengganggu jalur vital energi global, khususnya di Selat Hormuz, jalur yang mengalirkan seperlima minyak dunia.
“AS telah mempersenjatai pasar energi global… menciptakan krisis yang menguntungkan sektor energinya sendiri, tetapi membebani sekutu dengan biaya ekonomi besar.”
Dalam pandangan Azam, paradoks muncul: Amerika justru diuntungkan oleh lonjakan harga energi berkat posisi barunya sebagai eksportir, sementara sekutu seperti Jepang, Korea Selatan, dan Eropa terhimpit inflasi dan gangguan pasokan.
Narasi ini menempatkan krisis bukan sebagai efek samping, melainkan sebagai instrumen.
Kritik Ideologis dari Rusia
Sementara itu, Dmitry Bavyrin dari Ria Novosti membawa pembacaan yang lebih tajam, bahkan sinis. Ia menyoroti elit politik Amerika yang, menurutnya, masih terjebak dalam mentalitas Perang Dingin dan agresif terhadap dunia.
Tokoh seperti Tom Cotton digambarkan sebagai representasi generasi baru yang melihat konflik sebagai alat utama kebijakan luar negeri.
“Semua yang terjadi dalam kebijakan luar negeri AS… adalah perang salib yang telah lama ditunggu melawan Beijing.”
Dalam perspektif ini, Iran bukanlah tujuan akhir, melainkan batu loncatan menuju target yang lebih besar: China. Konflik di Timur Tengah diposisikan sebagai bagian dari strategi global untuk menekan rival utama Amerika.
Namun Bavyrin juga mencatat paradoks lain: meski agresif, hasilnya belum tentu menguntungkan. Perang justru mempercepat konsolidasi hubungan China-Rusia dan membuka peluang negara-negara lain mencari alternatif selain Washington.

7 hours ago
4






























:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5442317/original/061837000_1765533575-cheesecake-3660900_1280.jpg)

















