60 Ribu Migran Serbu Ceuta, Italia Ganggu Schengen dan Spanyol Merasa Dikhianati

9 hours ago 4

Ratusan orang menunggu di perbatasan di Fnideq, Maroko, dalam upaya untuk menyeberang ke Ceuta, kantong Spanyol di perbatasan dengan Maroko, di Fnideq, Maroko, Selasa (18/5), Pasukan tentara Spanyol dikerahkan setelah sekitar 5.000 warga Maroko berhasil masuk kota Ceuta melalui laut pada malam hari dan ratusan terus berdatangan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Krisis migrasi di Ceuta bergerak dari perbatasan Afrika Utara menuju jantung politik Eropa. Para menteri dalam negeri Uni Eropa akan menggelar konferensi video darurat pada Selasa (4/8/2026) untuk membahas masuknya puluhan ribu migran dari Maroko ke wilayah Spanyol tersebut dan pertikaian terbuka antara Madrid dan Roma.

Jadwal pertemuan itu telah dicantumkan secara resmi oleh Dewan Uni Eropa. Para menteri akan membahas perkembangan terkini di Ceuta setelah pertemuan mekanisme respons krisis Uni Eropa pada Sabtu (1/8/2026) menyimpulkan perlunya tanggapan politik bersama. Irlandia, yang memegang presidensi bergilir Dewan Uni Eropa, akan memimpin pertemuan tersebut.

Berita pertemuan darurat itu menjadi penting karena arus penyeberangan di Ceuta telah mereda, tetapi perpecahan di antara negara-negara Eropa justru semakin terbuka. Italia memberlakukan kembali pemeriksaan terhadap warga negara non-Uni Eropa yang tiba dari Spanyol melalui bandar udara dan pelabuhan selama satu bulan.

Keputusan Italia bukan penutupan total perbatasan dengan Spanyol. Warga Spanyol dan warga Uni Eropa lainnya tidak menjadi sasaran pemeriksaan tersebut. Namun, langkah Roma tetap mengguncang prinsip perjalanan tanpa pemeriksaan perbatasan di dalam kawasan Schengen dan segera memancing kemarahan pemerintahan Perdana Menteri Spanyol Pedro Sánchez.

“Ini merupakan tindakan luar biasa yang diambil untuk menjaga keamanan nasional dan mencegah kemungkinan dampak terhadap negara kami,” kata Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni melalui akun X, sebagaimana diberitakan Reuters pada Jumat (31/7/2026).

Meloni mengatakan pemeriksaan hanya akan dipertahankan selama diperlukan dan dilaksanakan dengan mempertimbangkan agar arus wisata musim panas tidak terganggu. Italia juga berkoordinasi dengan Prancis untuk memperkuat pengawasan di perbatasan Prancis-Italia.

Bagi Madrid, keputusan itu terasa seperti penolakan terhadap solidaritas yang selama ini menjadi dasar kebijakan migrasi bersama Uni Eropa. Sánchez mengingatkan bahwa Spanyol pernah menerima sebagian migran yang masuk ke Eropa melalui Belarusia pada 2021 serta membantu negara-negara lain ketika migran dalam jumlah besar tiba di Lampedusa, Italia, pada 2023.

Kini, ketika Spanyol menghadapi krisisnya sendiri, Madrid justru mendapat tekanan untuk dibatasi dari dalam kawasan Schengen.

“Dalam konteks internasional saat ini, Uni Eropa tidak mampu menanggung reaksi yang egoistis, memecah belah, dan melanggar hukum semacam ini,” tulis Sánchez dalam surat kepada Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen dan Presiden Dewan Eropa António Costa, sebagaimana dikutip Reuters pada Sabtu (1/8/2026).

Read Entire Article
Food |