Aktivis INH Serukan “Berisik untuk Palestina”, Dorong Boikot dan Aksi Global

1 week ago 6

REPUBLIKA.CO.ID, DEPOK — Penjajahan terhadap Palestina dinilai terus berlangsung secara konsisten, sementara respons publik kerap melemah dan terputus. Jurnalis International Networking for Humanitarian (INH), Ardian Sirius, menyerukan tekanan berkelanjutan melalui boikot, donasi, doa, serta penguatan suara di media sosial untuk melawan genosida dan penghapusan identitas Palestina.

Seruan tersebut disampaikan Ardian dalam Tabligh Akbar Dzikir Nasional Akhir Tahun Republika di Masjid At-Thohir, Depok, Rabu (31/12/2025). Ia menilai penjajahan atas Palestina tidak pernah berhenti dan dijalankan oleh kekuatan yang sama, yang juga mengendalikan cara berpikir publik melalui berbagai sistem global.

“Yang menjajah Palestina adalah penjajah yang sama yang hari ini juga memblokir dan mengendalikan pikiran-pikiran kita lewat sistem-sistemnya,” kata Sirius.

Menurutnya, masalah utama justru terletak pada respons masyarakat yang kerap tidak berkelanjutan. Ia menilai solidaritas sering muncul sesaat, lalu menghilang ketika perhatian publik bergeser. Kondisi itu, kata Sirius, membuat penjajahan terus berjalan tanpa tekanan berarti.

Ia mendorong masyarakat untuk memberi pengaruh dengan berbagai cara yang bisa dilakukan masing-masing individu, mulai dari donasi, boikot, doa, hingga konsistensi menyuarakan Palestina di media sosial. Sirius menekankan pentingnya suara kolektif untuk menembus algoritma dan membangun kesadaran publik secara perlahan namun terus-menerus, dimulai dari lingkungan terdekat seperti keluarga dan komunitas.

Sirius juga menyinggung contoh gerakan di Inggris yang secara langsung menekan industri persenjataan. Di negara tersebut, kata dia, komunitas warga melakukan aksi pemblokiran jalan menuju perusahaan senjata Elbit Systems, yang memproduksi senjata untuk Israel. Aksi tersebut dilakukan secara terbuka meski para pelakunya menghadapi risiko penahanan.

Ia menilai keberanian para aktivis lintas iman di Inggris patut menjadi refleksi bersama. Sirius menekankan, banyak dari mereka bukan Muslim, namun bergerak atas dasar kemanusiaan dan kemarahan terhadap ketidakadilan global.

Dalam konteks Indonesia, Sirius menilai motivasi masyarakat Muslim seharusnya jauh lebih besar. Selain alasan kemanusiaan, menurutnya, Indonesia memiliki ikatan sejarah, ideologi, serta empati kolektif terhadap perjuangan rakyat Palestina.

Read Entire Article
Food |