REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Menjelang Ramadhan dan Idul Fitri 1447 Hijriah, denyut kepedulian sosial di Maluku Utara terasa semakin kuat. Di satu sisi, pemerintah daerah bergerak menjaga stabilitas harga dan daya beli; di sisi lain, aparat keamanan, hingga lembaga kependudukan, memperkuat intervensi kesejahteraan dan pembangunan keluarga. Semua berpadu dalam satu tarikan napas: memastikan masyarakat menyambut hari besar keagamaan dengan tenang dan bermartabat.
Di Desa Sidangoli Gam, Halmahera Barat, Gubernur Sherly Tjoanda mendistribusikan 1.000 paket pangan murah sebagai bagian dari upaya menekan laju inflasi dan menjaga akses masyarakat terhadap kebutuhan pokok.
Menurutnya, setiap momentum hari besar keagamaan kerap diiringi lonjakan harga pangan. Karena itu, kehadiran program pangan murah menjadi bentuk intervensi langsung pemerintah provinsi untuk memberi fleksibilitas bagi warga.
Dalam program tersebut, masyarakat dapat menebus paket sembako seharga Rp50.000 yang berisi beras 5 kilogram, gula pasir 2 kilogram, dan minyak goreng 2 liter. Dari pantauan lapangan, wajah-wajah cerah warga yang menenteng kantong belanja penuh menjadi gambaran konkret manfaat program ini. Suasana riuh namun tertib mencerminkan antusiasme sekaligus harapan agar stabilitas harga tetap terjaga hingga Idul Fitri.
Tak hanya pangan murah, pemerintah provinsi juga menyerahkan bantuan dua kursi roda dan lima tongkat berjalan kepada warga yang membutuhkan. Langkah ini menjadi bagian dari strategi lebih luas dalam mengendalikan rantai pasok dan memastikan program seperti Gerakan Pangan Murah benar-benar menyentuh masyarakat secara langsung.
Bagi Gubernur Sherly, program ini bukan sekadar menghadirkan bahan pokok terjangkau, tetapi juga menumbuhkan semangat kebersamaan dan rasa syukur di tengah masyarakat.
Upaya menjaga kesejahteraan masyarakat pesisir juga dilakukan aparat pertahanan. Personel Pangkalan TNI AL Aru membagikan sembako kepada para nelayan di wilayah laut Kepulauan Aru dalam rangka Operasi Trisila-26. Kegiatan ini bertujuan membantu perekonomian nelayan yang menghadapi hasil tangkapan tidak menentu akibat faktor cuaca dan kondisi ekonomi.
Komandan Lanal Aru Letkol Laut (P) Sriadi menegaskan bahwa Operasi Trisila-26 membuktikan kehadiran TNI AL di wilayah perbatasan tidak semata berorientasi pada aspek pertahanan, tetapi juga kepedulian sosial.
Pembagian sembako bahkan dilakukan langsung dari atas geladak kapal di laut, sebagai simbol kedekatan prajurit dengan masyarakat pesisir. Antusiasme para nelayan menjadi bukti bahwa kehadiran negara dirasakan tidak hanya dalam bentuk pengamanan wilayah, tetapi juga dukungan ekonomi.
Sementara itu, penguatan kesejahteraan jangka panjang dilakukan melalui intervensi penanganan stunting. Perwakilan BKKBN Maluku Utara menegaskan pentingnya pemanfaatan data yang tepat dalam merumuskan kebijakan.
Kepala perwakilan Kemendukbangga/BKKBN Maluku Utara, Victor, mengingatkan bahwa kekuatan utama lembaganya terletak pada kekayaan data, namun penggunaannya harus akurat agar intervensi tidak bias.
Ia menjelaskan bahwa stunting, sesuai standar World Health Organization dan Peraturan Presiden Nomor 72 Tahun 2021, mencakup anak usia dua hingga lima tahun dan bukan semata-mata persoalan kekurangan makanan.
Stunting merupakan hasil dari penyebab multifaktoral yang terangkum dalam tiga aspek utama: suboptimal nutrition, suboptimal health, dan suboptimal parenting. Bahkan, faktor spesifik seperti gizi dan kesehatan hanya berkontribusi sekitar 30 persen, sementara 70 persen sisanya dipengaruhi faktor sensitif terkait lingkungan.
sumber : Antara

1 hour ago
3
































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5442317/original/061837000_1765533575-cheesecake-3660900_1280.jpg)














