REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jakarta masih belum menemukan cara untuk memanfaatkan ikan sapu-sapu yang menjadi masalah di perairan ibu kota. Dalam operasi penangkapan ikan sapu-sapu yang dilakukan, hasil tangkapannya sementara hanya ditangani dengan dikubur di tanah.
Pakar ikan dan konservasi ikan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB University, Charles PH Simanjuntak, ikan sapu-sapu yang ditangkap dari wilayah perairan Jakarta masih bisa dimanfaatkan. Salah satunya adalah dengan mengolah ikan sapu-sapu menjadi pupuk organik cair.
"Daripada dikubur, bisa digunakan untuk jadi pupuk cair organik bagi tanaman hias atau pohon-pohon di Jakarta," kata dia kepada Republika, Rabu (22/4/2026).
Meski begitu, ia mengingatkan bahwa pupuk yang diolah dari ikan sapu-sapu hanya dapat untuk tanaman hias. Pupuk organik cair itu dinilai tidak bisa digunakan untuk tanaman pangan atau hortikultura.
"Tapi tidak untuk tanaman pangan atau hortikultura, karena ada kandungan logam beratnya," kata Charles.
Ia mengakui, ikan sapu-sapu di habitat alaminya, Sungai Amazon, dimanfaatkan oleh masyarakat sebagai sumber protein hewani. Pasalnya, hewan memiliki kandungan protein 22,54-23,47 persen dan lemak 3,42-5,49 persen. Artinya, ikan sapu-sapu dapat dikonsumsi sebagai sumber protein hewani. Namun, ikan sapu-sapu yang dikonsumsi mesti dipastikan berasal dari perairan yang tidak tercemar.
Charles menjelaskan, berdasarkan hasil sejumlah penelitian, ikan sapu-sapu yang berasal dari Sungai Ciliwung mengandung beberapa logam berat yang berbahaya, seperti Pb, Cd dan Hg. Karenanya, perlu ada penelitian yang lebih mendalam mengenai kandungan logam berat pada tubuh ikan sapu-sapu di sepanjang Sungai Ciliwung dan batas aman konsumsi ikan sapu-sapu dari Sungai Ciliwung.
"Ikan sapu-sapu yang berasal dari perairan yang terkontaminasi logam berat mungkin mengandung kadar logam yang cukup tinggi dalam jaringannya, terutama pada otot, yang merupakan bagian utama yang digunakan sebagai pakan ternak," kata dia.
Charles mengakui terdapat metode pengolahan dapat mengurangi konsentrasi logam berat. Namun, tetap ada risiko ternak yang mengonsumsi pakan dari ikan sapu-sapu dapat menumpuk logam berat dalam tubuhnya seiring waktu, terutama logam seperti Pb dan Cd.
Menurut dia, pemantauan yang cermat, penilaian risiko, dan penerapan strategi mitigasi yang efektif sangatlah penting. Hal itu mesti dilakukan sebelum menyetujui penggunaan ikan sapu-sapu sebagai pakan ternak.
Charles menambahkan, penggunaan ikan sapu-sapu dari perairan yang terkontaminasi logam berat sebagai pupuk bagi tanaman konsumsi juga tidak disarankan. Apalagi hal itu dilakukan tanpa melalui proses pengolahan yang memadai untuk menghilangkan logam berat. Mengingat, risiko keamanan yang telah didokumentasikan dengan baik, kekhawatiran terkait bioakumulasi potensi dampak negatif terhadap lingkungan dan kesehatan manusia.
Ia menilai, penggunaan tersebut baru dapat dianggap aman dan berkelanjutan setelah dilakukan remediasi yang efektif dan penilaian keamanan yang menyeluruh. "Namun, pupuk organik cair yang berasal dari ikan sapu-sapu dapat dijadikan pupuk untuk tanaman hias atau tumbuhan lainnya yang tidak untuk dikonsumsi," kata dia.

2 hours ago
2













































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5455219/original/006121400_1766639015-IMG-20251002-WA0019.jpg)


