AMP Kumpulkan Tokoh Perantau, Investasi hingga SDM Jadi Agenda Kemajuan Padang Lawas

8 hours ago 6

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA —  Deputi Bidang Pengendalian Pelaksanaan Penanaman Modal Kementerian Investasi dan Hilirisasi RI yang juga tokoh daerah asal Padang Lawas—Edy Junaedi Harahap, mengatakan, ukuran kemajuan sebuah daerah tidak berhenti pada angka pertumbuhan ekonomi. Yang jauh lebih menentukan justru kualitas manusianya.

Gagasan itu mengemuka dalam diskusi publik yang digelar Angkatan Muda Padang Lawas (AMP) bertajuk Semangat Masyarakat dan Pemuda Perantau dalam Memajukan Padang Lawas di Hotel Adia Suites, Tangerang Selatan, Sabtu, 25 Juli 2026. Forum tersebut mempertemukan sejumlah tokoh asal Padang Lawas dari berbagai bidang untuk membahas arah pembangunan daerah yang dinilai masih menyisakan banyak pekerjaan rumah.

Edy menjelaskan, pembangunan daerah tak cukup hanya mengejar angka pertumbuhan ekonomi. Yang jauh lebih penting adalah memastikan masyarakat memiliki akses pendidikan yang lebih baik, layanan kesehatan yang memadai, serta kemampuan ekonomi yang meningkat. Ketiga aspek itu, menurutnya, tercermin dalam Indeks Pembangunan Manusia atau IPM.

Mantan Pelaksana Tugas Bupati Padang Lawas ini menuturkan, setiap orang sejatinya memiliki potensi untuk berkembang secara maksimal. Namun kemampuan itu sangat dipengaruhi oleh kualitas pembangunan manusia di lingkungan tempat mereka hidup. Karena itu, daerah dengan IPM lebih tinggi akan memberi ruang lebih besar bagi masyarakatnya untuk mengembangkan diri.

Bagi Edy, salah satu modal yang dimiliki Padang Lawas justru berasal dari ikatan sosial masyarakatnya. Ia menilai budaya Dalihan Na Tolu—yang merupakan sistem persaudaraan khas Tapanuli Bagian Selatan dan Utara—selama ini menjadi perekat yang mampu menghubungkan masyarakat di kampung halaman dengan para perantau yang telah membangun jejaring di berbagai daerah.

“Masyarakat perantau adalah penjembatan alami, di mana satu kaki berada di kampung dan satu kaki di jaringan nasional. Konsep Dalihan Na Tolu ini harus terus dimanfaatkan untuk membangun kekuatan dalam memajukan daerah,” kata Edy.

Ia memandang Dalihan Na Tolu jangan hanya dimaknai sebagai tradisi kekerabatan masyarakat Angkola-Mandailing yang terdiri atas mora, kahanggi, dan anak boru. Lebih dari itu, konsep tersebut dinilai menjadi modal sosial yang dapat memperkuat kolaborasi dalam mendorong pembangunan daerah.

“Konsep ini adalah modal sosial yang sangat kuat. Dan masyarakat perantau adalah penjembatan alami, dimana satu kaki di kampung dan satu kaki di jaringan Nasional. Di mana konsep Dalihan Na Tolu ini dapat terus dimanfaatkan dalam berhubungan dan membagun kekuatan dalam memajukan daerah,” jelasnya.

Pandangan senada disampaikan tokoh perantau Padang Lawas lain yang juga Direktur PT Wave Communication Indonesia Parlin Pasaribu. Menurut dia, kekayaan sumber daya alam Padang Lawas memang memiliki daya tarik besar bagi investor. Namun manfaat investasi tidak boleh berhenti menjadi keuntungan perusahaan semata.

Yang lebih penting, kata dia, adalah bagaimana aktivitas ekonomi tersebut mampu meningkatkan PDRB daerah sekaligus mendorong kesejahteraan masyarakat melalui pendidikan dan penguatan ekonomi. Ia juga menilai generasi muda perlu membangun etos kerja dan semangat kewirausahaan agar mampu mengambil peran dalam pembangunan daerah.

Sementara itu, tokoh Padang Lawas lain yang juga Managing Partner PWP Laws, Amris Pulungan, mengingatkan keberhasilan para perantau semestinya tidak berhenti pada pencapaian pribadi. Sejumlah aspek sosial lain seperti ilmu, pengalaman, jaringan, hingga posisi yang diperoleh di luar daerah seharusnya dapat kembali memberi manfaat bagi tanah kelahiran.

“Kita ingin Padang Lawas bisa menjadi Bumi Tahfidz Quran. Maka Kita harus menyelaraskan kerja profesional kita dengan akhirat. Mengambil hikmah dari kisah Rasulullah SAW. Hal yang diajarkan Rasulullah adalah kejujuran bukan kepintaran. Di mana pun posisimu, pengetahuan serta ilmu yang didapat bisa langsung diaplikasikan kepada keluarga, daerah, dan masyarakat yang lebih luas”, ungkapnya.

Aksi Nyata Angkatan Muda Padang Lawas

Meski memiliki potensi besar, Edy mengakui Padang Lawas masih menghadapi berbagai ketertinggalan dibandingkan sejumlah daerah lain di Sumatera Utara. Tantangan itu terlihat pada sektor pendidikan, ekonomi hingga infrastruktur yang dinilai masih perlu mendapat perhatian lebih serius.

Karena itu, Ketua AMP Irfan Kamil Siregar mengatakan organisasinya berupaya mengubah semangat para perantau menjadi aksi nyata. Sejumlah program telah dijalankan, mulai dari pendirian LBH Hatigoran untuk layanan bantuan hukum gratis, pemberdayaan UMKM, bantuan modal usaha, pengurusan SIM gratis, khitanan massal, santunan yatim, beasiswa pendidikan, hingga kegiatan sosial dan kemanusiaan lainnya. Seluruh kegiatan tersebut dijalankan secara mandiri oleh organisasi.

Menurut Irfan, pembangunan daerah tidak mungkin berjalan tanpa kualitas sumber daya manusia yang baik. Kesadaran, komitmen, disiplin, dan kemampuan bersinergi menjadi fondasi agar potensi para perantau dapat benar-benar memberi dampak bagi kampung halaman.

“Diskusi publik ini menjadi langkah awal untuk sinergi dan menyatukan tekad tujuan bersama para tokoh-tokoh Palas lainnya dalam menciptakan satu gerakan masif memajukan daerah asal Padang Lawas,” kata Irfan.

Wakil Ketua Umum AMP Robi Achyar Siregar menambahkan, pembangunan Padang Lawas perlu ditempuh melalui kolaborasi yang melibatkan pemerintah, pemuda, pengusaha, akademisi, ulama, dan masyarakat. Namun ia mengingatkan agar modal sosial Dalihan Na Tolu tidak berubah menjadi alat yang justru menghambat kemajuan karena dipakai untuk kepentingan pribadi maupun kelompok.

“Sebagai tindak lanjut, Angkatan Muda Padang Lawas akan berperan sebagai inisiator rekonsiliasi, sinergi dan kolaborasi antar pemuda, masyarakat, dan pemimpin pemerintah daerah Padang Lawas guna menyatukan visi dan misi serta mempercepat terwujudnya Padang Lawas yang maju, mandiri, sejahtera dan berdaya saing,” kata Robi.

Read Entire Article
Food |