Analis Militer: Iran Siapkan Jebakan, Pulau Kharg Bisa Jadi Kuburan Massal Pasukan AS

3 hours ago 3

Foto satelit Pulau Kharg.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Rencana Amerika Serikat untuk merebut Pulau Kharg, pusat ekspor minyak Iran, menuai kritik tajam dari para analis militer internasional. Operasi amfibi yang tengah dipertimbangkan pemerintahan Trump dinilai sebagai langkah berisiko tinggi yang mengancam keselamatan pasukan AS sendiri di tengah gempuran persenjataan canggih Iran.

Mikael Valtersson, mantan perwira Angkatan Bersenjata dan pertahanan udara Swedia, menyebut bahwa agresi terhadap Iran adalah akibat langsung dari "kegagalan besar intelijen dan perencanaan AS." Menurutnya, upaya merebut Pulau Kharg merupakan operasi tergesa-gesa yang tidak mempertimbangkan secara matang kemampuan pertahanan lawan, sebagaimana diberitakan Sputnik.

Pakar militer memperingatkan bahwa Iran telah membangun inventori rudal anti-kapal yang masif dan mematikan. Setidaknya empat sistem menjadi ancaman utama bagi armada AS yang mencoba mendekati Pulau Kharg:

Khalij Fars mampu menjangkau 300 km dengan kecepatan Mach 3–4. Ini merupakan rudal balistik anti-kapal dengan hulu ledak 650 kg.

Berikutnya adalah Rudal Zolfaghar Basir dengan jangkauan 700 km. Kecepatannya supersonik yang dilengkapi optical seeker untuk target bergerak.

Kemudian ada Rudal Abu Mahdi dengan jangkauan lebih dari 1.000 km. Ini merupakan rudal jelajah rendah yang menggunakan AI, terbang di ketinggian beberapa meter.

Dengan kecepatan hingga Mach 4, rudal-rudal ini dapat mencapai target di Teluk dalam waktu kurang dari lima menit setelah diluncurkan. Kapal perang AS yang beroperasi dekat pantai akan menjadi sasaran empuk tanpa waktu reaksi yang cukup.

Rudal Anti-Pesawat Ringan: Ancaman Senyap dari Udara

Selain ancaman laut, Iran juga memiliki sistem pertahanan udara jarak pendek yang sulit dideteksi. Sistem seperti Khordad-15, Tor-M2, dan Pantsir-S1 menjadi ancaman serius bagi helikopter angkut dan pesawat pendukung udara yang menjadi urat nadi operasi pendaratan.

Valtersson menekankan bahwa kekuatan udara AS unggul dalam melawan target strategis besar, tetapi kesulitan menetralisir unit-unit kecil dan mobile Iran yang dipersenjatai rudal permukaan-ke-udara. Dukungan udara jarak dekat menggunakan helikopter dianggap terlalu berbahaya karena kerentanan terhadap rudal ringan ini.

sumber : Antara

Read Entire Article
Food |