Pelecehan terhadap perempuan di dunia maya (ilustrasi). Menurut Komnas Perempuan, kehadiran Al membuat praktik kekerasan berbasis gender menjadi lebih mudah dilakukan dan masif penyebarannya.
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Komnas Perempuan RI menyoroti kasus dugaan penyalahgunaan fitur kecerdasan buatan Grok Al pada platform X yang dimanfaatkan untuk memproduksi konten asusila, dengan perempuan sebagai mayoritas korban. Kasus ini menunjukkan bahwa AI membuat tren kekerasan berbasis gender online (KBGO) semakin kompleks dan berbahaya.
Ketua Resource Center Komnas Perempuan, Chatarina Pancer Istiyani, mengatakan kehadiran Al membuat praktik kekerasan berbasis gender menjadi lebih mudah dilakukan dan masif penyebarannya. Selain itu, platform media sosial juga semakin mempermudah penyebaran konten asusila yang diproduksi Al.
"Dengan Al, KBGO semakin kompleks dan mudah dilakukan. Tinggal perintah, maka terwujudlah yang diinginkan pelaku. Media sosial juga membuat pelaku mendapatkan ruang yang leluasa untuk melakukan tindakan kekerasan. Umumnya pelaku menggunakan nama anonim," kata Chatarina saat dihubungi Republika, Kamis (8/1/2026).
Kondisi ini pada akhirnya menempatkan korban pada trauma psikologis yang berlapis. Selain merasa malu dan terhina, ungkap Chatarina, korban juga berisiko mengalami kecemasan berkepanjangan karena merasa reputasi sosialnya hancur.
"Bahkan, korban dapat kehilangan pekerjaannya karena kasus yang menimpanya. Semuanya itu bisa memicu trauma psikis. Tidak jarang juga yang kemudian secara fisik mengalami sakit. Ada juga yang dampak keselamatan dirinya yang terancam karena adanya anggapan kasus yang menimpanya menjadi aib bagi keluarga," ujar Chatarina.

19 hours ago
2















































