Ilustrasi anak menggunakan AI.
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Di tengah ambisi besar Amerika Serikat membangun dominasi kecerdasan buatan (AI), sebuah fakta mengejutkan muncul: China justru ikut menikmati hasilnya. Di balik investasi raksasa senilai hampir US$2 triliun untuk pembangunan pusat data, rantai pasokan global menunjukkan arah yang tak sepenuhnya bisa dikendalikan Washington.
Laporan terbaru dari Oxford Economics mengungkap bahwa proyek-proyek pusat data di AS, yang nilainya mencapai sekitar US$2 triliun (Rp32 kuadriliun), sebagian besar terserap untuk pembelian peralatan teknologi, termasuk semikonduktor dan server. Sekitar tiga perempat dari total biaya tersebut mengalir ke sektor ini, membuka peluang besar bagi negara-negara pemasok teknologi.
Lonjakan investasi tersebut secara langsung mendorong peningkatan impor elektronik AS, yang mayoritas berasal dari Asia dan Meksiko. Taiwan dan Korea Selatan menjadi pemenang utama, berkat ekspor chip canggih dan memori yang menjadi tulang punggung teknologi AI.
Namun yang menarik, China juga muncul sebagai penerima manfaat, meskipun secara tidak langsung. Di tengah pembatasan teknologi dan perang dagang dengan AS, ekspor langsung China ke Amerika memang menurun. Tetapi di saat yang sama, ekspor China ke negara-negara Asia lainnya justru meningkat signifikan.
Kondisi ini menunjukkan bahwa China tetap terhubung erat dalam rantai pasokan Asia. Barang-barang seperti papan sirkuit tercetak (PCB) dan komponen server AI yang diproduksi di China tetap mengalir ke pasar global melalui negara perantara, sebelum akhirnya berkontribusi pada proyek-proyek teknologi di AS.
Data menunjukkan bahwa pada 2025, AS mengimpor lebih dari enam kali lipat jumlah komputer yang diproduksinya sendiri, serta 2,6 kali lipat rakitan PCB. Fakta ini menegaskan bahwa ketergantungan terhadap rantai pasokan global, khususnya Asia, masih sangat tinggi,sebagaimana diberitakan South China Morning Post.
Taiwan Semiconductor Manufacturing Company (TSMC) memainkan peran sentral sebagai produsen chip canggih bagi perusahaan seperti Nvidia. Sementara itu, Korea Selatan, Jepang, dan Singapura turut menopang ekosistem melalui produksi komponen elektronik berteknologi tinggi.

13 hours ago
8










































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5448189/original/093801500_1766021590-WhatsApp_Image_2025-12-18_at_07.55.13.jpeg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/2384766/original/020395400_1539683489-Jason_Leung.jpg)




