REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Industri rekaman Australia mulai memperketat aturan terhadap musik yang dibuat menggunakan kecerdasan buatan (Al). Lagu yang sepenuhnya dihasilkan oleh Al tidak lagi diperbolehkan masuk ke tangga lagu resmi Australian Recording Industry Association (ARIA) mulai 31 Agustus 2026.
Langkah tegas ini diambil setelah sebuah versi dari lagu Madonna "Like a Prayer", yang dibuat oleh seorang produser Australia menggunakan vokal dan drum hasil Al, bertahan selama 16 pekan di 20 besar tangga lagu Australia. Lagu tersebut bahkan sempat mencapai posisi kedua dalam tangga lagu 20 besar single Australia versi ARIA pada bulan Mei.
Menurut aturan baru ARIA, sebuah lagu yang menggunakan Al masih dapat masuk tangga lagu selama manusia tetap menjadi pusat proses kreatifnya. Di antaranya, manusia harus menulis lagu serta membawakan vokal utama dan memainkan instrumen utama.
Selain tangga lagu, musik yang sepenuhnya dihasilkan Al juga tidak akan memenuhi syarat untuk mengikuti ARIA Awards, penghargaan bergengsi industri musik Australia. CEO ARIA, Annabelle Herd, mengatakan perubahan ini mencerminkan niat organisasi untuk tetap dinamis dan mengedepankan sisi manusiawi dalam seni musik.
"Tangga lagu ARIA akan selalu menjadi tolok ukur yang transparan terhadap musik yang dinikmati masyarakat Australia, namun tangga lagu yang memberikan apresiasi pada karya Al tanpa izin justru akan merusak fondasi dasar musik rekaman yang menjadi inti keberadaan kami," kata Herd dilansir laman AP, Jumat (28/8/2026).
ARIA juga menetapkan bahwa musik yang menggunakan Al dan ingin masuk tangga lagu harus diproduksi menggunakan layanan Al yang legal. Aturan ini berkaitan dengan kekhawatiran bahwa sejumlah musik yang muncul di layanan streaming dikembangkan menggunakan perangkat Al yang dilatih dengan karya para seniman tanpa izin.
ARIA menilai persoalan tersebut penting karena teknologi Al generatif dapat menghasilkan musik berdasarkan materi karya manusia yang digunakan tanpa otorisasi. Kebijakan Australia ini sejalan dengan prinsip baru yang dirilis pada Juli oleh International Federation of the Phonographic Industry (IFPI) yang berbasis di London dan mewakili industri rekaman dunia. Pedoman internasional tersebut menyatakan sebuah lagu yang ingin memenuhi syarat masuk tangga lagu resmi harus secara substansial dibuat oleh manusia.
Kebijakan baru ini mendapat sambutan baik dari para musisi, Komposer sekaligus dosen di Sydney Conservatorium of Music, Alexis Weaver, menyambut baik keputusa ARIA sebagai langkah maju yang luar biasa. "Kebijakan itu mengirimkan pesan bahwa ARIA ingin mengutamakan dan menghargai kreativitas manusia," kata Weaver.
Meski demikian, Weaver mengakui bahwa menghindari penggundan Al sepenuhnya kini cukup sulit dilakukan dalam industri musik. Menurut dia, Al tetap dapat digunakan selama manusia masih memegang kendali atas proses kreatif dan tetap menjadi pihak yang membuat keputusan-keputusan kreatif utama.
"Cukup sulit untuk menghindari perangkat Al di situasi saat ini. Tapi ada cara untuk menggunakannya sementara Anda tetap memegang kendali dan membuat keputusan kreatif utama," kata dia.
Hingga saat ini penggunaan Al untuk proses kreatif musik masih menjadi perdebatan. Madonna pernah mengkritik penggunaan kecerdasan buatan (Al) di industri musik. Dalam sebuah wawancara baru dengan Vogue Italia, ia menegaskan bahwa Al sebagai sesuatu yang bertolak belakang dengan proses kreatif dalam berkesenian.

4 hours ago
7







































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5692679/original/097423800_1778569231-1_1_.jpg)


:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5547403/original/034869900_1775458279-pexels-crysnet-14537683.jpg)





