Jerman Rekrut 460 Ribu Pasukan dan Ratusan Miliar Euro, Rusia Respons Menohok

11 hours ago 7

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Ketegangan geopolitik antara Rusia dan Eropa kembali meningkat tajam setelah pejabat tinggi Moskow memperingatkan potensi konflik besar, di saat Jerman justru mempercepat transformasi militernya menjadi yang terkuat di kawasan.

Wakil Ketua Dewan Keamanan Rusia, Dmitry Medvedev, menegaskan bahwa hanya “ketakutan mendalam terhadap kerugian yang tidak dapat diterima” yang dapat mencegah Jerman dan Eropa melancarkan serangan terhadap Rusia.

Dalam artikelnya menjelang peringatan kemenangan atas Nazi Jerman, Medvedev menuding Barat tengah mendorong militerisasi agresif dan membangun narasi Rusia sebagai musuh eksternal.

“Tanggapan kita hanya bisa berupa keamanan Rusia melalui rasa takut yang mendalam terhadap Eropa,” tulis Medvedev sebagaimana diberitakan Russia Today pada Rabu (6/5/2026).

Ia bahkan menyebut potensi konflik masa depan sebagai “Operasi Barbarossa 2.0”, merujuk pada invasi Nazi ke Uni Soviet dalam Perang Dunia II.

Jerman Percepat Ambisi Militer

Di tengah tudingan tersebut, Kanselir Jerman Friedrich Merz secara terbuka menegaskan ambisi besar untuk menjadikan Bundeswehr sebagai kekuatan militer konvensional terkuat di Eropa.

Pernyataan itu disampaikan dalam forum keamanan internasional, dengan latar meningkatnya ketegangan global pasca Perang Rusia-Ukraina.

“Kita akan menjadikan Bundeswehr sebagai angkatan darat konvensional terkuat di Eropa sesegera mungkin, angkatan yang mampu bertempur jika diperlukan,” ujar Merz.

Langkah ini menandai perubahan besar dalam kebijakan pertahanan Jerman yang selama puluhan tahun cenderung menahan diri pasca perang dunia.

Target 460.000 Personel dan ‘Siap Perang’ 2029

Kementerian Pertahanan Jerman telah meluncurkan peta jalan ambisius untuk mencapai target tersebut, termasuk pengerahan hingga 460.000 personel siap tempur pada 2039.

Sementara itu, sejumlah pejabat Jerman dan Uni Eropa menyebut 2029 sebagai tenggat awal untuk mencapai kondisi “siap berperang” menghadapi potensi konflik dengan Rusia.

Target ini bertepatan dengan dinamika keamanan Eropa yang semakin kompleks, di mana ancaman konvensional kembali menjadi perhatian utama.

Read Entire Article
Food |