Sukuk Dinilai Cocok Jadi Investasi Keluarga Muda

7 hours ago 16

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Instrumen investasi syariah seperti sukuk dinilai semakin relevan bagi keluarga muda untuk membangun ketahanan keuangan jangka panjang. Selain menawarkan risiko relatif rendah, investasi ini juga dianggap lebih mudah dijangkau karena dapat dimulai dari nominal kecil.  

Guru Besar Akuntansi Syariah Universitas Tazkia Murniati Mukhlisin mengatakan, masyarakat perlu mulai membiasakan diri menyisihkan sebagian pendapatan untuk investasi rutin, bukan hanya untuk konsumsi atau tabungan jangka pendek.

“Minimal 10 persen pendapatan bulanan dialokasikan untuk investasi. Kalau tidak ada cicilan utang bisa sampai 40 persen,” ujar Murniati dalam Webinar EKSYAR Diaspora dan PPI, Rabu (6/5/2026).

Menurut dia, sukuk dapat menjadi pilihan investasi yang relatif aman karena dijamin negara dan cocok untuk berbagai profil risiko investor, termasuk keluarga muda yang baru mulai belajar mengelola keuangan.

Pemerintah sendiri akan menawarkan Sukuk Tabungan seri ST016 mulai 8 Mei hingga awal Juni. Instrumen ini menawarkan imbal hasil sekitar 6–7 persen dengan pajak lebih rendah dibanding deposito serta pembelian mulai Rp 1 juta.  

Direktur Utama Bank Syariah Matahari Muhammad Iman Sastra Mihajat mengatakan, sukuk negara memiliki tingkat keamanan tinggi karena didukung penuh pemerintah.

“Sukuk negara itu rating-nya sudah paling atas. Sangat aman karena dijamin negara, jadi kemungkinan uang tidak kembali itu sangat kecil,” ujar Iman.

Menurut dia, instrumen sukuk juga cocok bagi masyarakat yang membutuhkan pendapatan tetap atau fixed income untuk perencanaan keuangan keluarga.

“Saya melihat sukuk sebagai salah satu investasi paling aman. Memang return-nya tidak terlalu tinggi, tetapi rata-rata cukup baik. Pajaknya juga rendah,” katanya.

Iman menambahkan, tren investor sukuk saat ini mulai didominasi generasi muda, khususnya generasi Z dan milenial. Karena itu, sosialisasi dinilai perlu dibuat lebih sederhana dan dekat dengan kehidupan sehari-hari. “Mayoritas investor sukuk justru berasal dari generasi Z dan milenial,” ujarnya.

Head of Financial Controlling Airbus Helicopters Arabia Harri Gemilang menilai kepemilikan sukuk negara bagi diaspora maupun keluarga muda bukan sekadar soal keuntungan investasi.

“Bagi diaspora, memiliki sukuk negara itu seperti naik kelas. Jadi bukan hanya bicara soal tenor dan kupon, tetapi juga soal masa depan keluarga,” kata Harri.

Ia menilai pendekatan promosi investasi syariah juga perlu lebih modern agar mudah dipahami generasi muda. Menurut dia, selama ini masih banyak masyarakat yang belum akrab dengan instrumen keuangan syariah meski potensinya besar.

Read Entire Article
Food |