Pemerintah kembali menarik pembiayaan melalui penerbitan Surat Utang Negara (SUN) pada awal 2026. (ilustrasi)
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pemerintah kembali menarik pembiayaan melalui penerbitan Surat Utang Negara (SUN) pada awal 2026. Nilai utang yang dihimpun mencapai Rp 18.649.517.000.000 atau setara Rp 18,6 triliun melalui mekanisme private placement dengan imbal hasil di kisaran 6,6 persen. Setelmen transaksi dilakukan pada 5 Januari 2026, sementara pelaksanaan transaksi berlangsung pada 30 Desember 2025.
“Pemerintah telah menyelesaikan setelmen transaksi Surat Utang Negara (SUN) dengan cara private placement pada tanggal 5 Januari 2026,” dikutip dari laman resmi Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko, Selasa (6/1/2026).
Penerbitan SUN ini menjadi salah satu langkah awal pemerintah dalam mengamankan pembiayaan negara sejak awal tahun. Skema private placement dipilih untuk menjaring investor tertentu tanpa melalui proses lelang reguler di pasar perdana.
Total penerbitan SUN tersebut terbagi ke dalam dua seri obligasi negara berjenis fixed rate (FR). Kedua seri tersebut sama-sama berstatus dapat diperdagangkan di pasar sekunder sehingga dapat diperjualbelikan kembali oleh investor sebelum jatuh tempo.
Seri FR0076 diterbitkan sebesar Rp 9.140.433.000.000 dengan kupon 7,375 persen dan imbal hasil (yield) 6,65 persen. Obligasi ini memiliki jatuh tempo panjang hingga 15 Mei 2048.
Sementara itu, seri FR0089 menyumbang Rp 9.509.084.000.000. Seri ini menawarkan kupon 6,875 persen dengan yield 6,67 persen dan jatuh tempo pada 15 Agustus 2051. Sama seperti seri lainnya, SUN ini berstatus dapat diperdagangkan di pasar sekunder.
Dengan tenor lebih dari dua dekade dan tingkat imbal hasil di bawah 7 persen, penerbitan SUN melalui private placement ini menjadi salah satu langkah pemerintah dalam mengamankan pembiayaan jangka panjang sejak awal tahun.

5 days ago
2















































