REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa) Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menegaskan pentingnya peran perempuan dalam membangun fondasi literasi anak sejak usia dini.
Penegasan tersebut disampaikan dalam gelar wicara bertajuk “Pemberdayaan Perempuan melalui Pendidikan untuk Meningkatkan Literasi” yang digelar di Jakarta, Rabu. Kegiatan ini menyoroti kontribusi ibu dan pendidik sebagai aktor utama dalam menumbuhkan budaya baca dan tulis di lingkungan anak.
Kepala Badan Bahasa Kemendikdasmen, Hafidz Muksin, mengatakan peningkatan literasi tidak dapat dibebankan semata kepada guru di ruang kelas. Menurut dia, literasi merupakan tanggung jawab bersama yang dimulai dari lingkungan keluarga.
“Peningkatan literasi bukan hanya tugas guru, tetapi tanggung jawab bersama yang dimulai dari lingkungan terdekat anak,” ujar Hafidz.
Dalam kegiatan tersebut, Badan Bahasa menghadirkan praktik baik dari para pegiat literasi di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Mereka tergabung dalam program Inovasi Anak Sekolah Indonesia (INOVASI), kemitraan pendidikan antara Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Australia.
Hafidz menilai keterlibatan tokoh perempuan dan ekosistem lokal di NTT menjadi contoh konkret keberhasilan kolaborasi dalam meningkatkan literasi anak.
“Kami menghadirkan tokoh-tokoh dari NTT untuk berbagi praktik baik tentang bagaimana ekosistem daerah, mulai dari Bunda Literasi, kepala sekolah, guru, hingga forum taman bacaan, bahu-membahu menumbuhkan minat baca,” katanya.
Ia menjelaskan, penguatan literasi harus mencakup tiga ranah utama, yakni sekolah, masyarakat, dan keluarga. Ketiganya perlu berjalan beriringan agar hasil yang dicapai lebih optimal.
Menurut Hafidz, perempuan memiliki peran sentral dalam menghidupkan budaya literasi di rumah, khususnya melalui kebiasaan bertutur dan membaca kepada anak sejak dini.
Peran tersebut dinilai penting sebelum anak memasuki pendidikan formal, sehingga fondasi literasi sudah terbentuk sejak awal.
Lebih lanjut, Hafidz berharap praktik baik yang telah berjalan di NTT dapat direplikasi di daerah lain di Indonesia.
Ia menyebut Badan Bahasa sebelumnya juga telah menggelar kegiatan serupa yang menekankan penggunaan bahasa ibu atau bahasa daerah pada kelas awal sebagai bagian dari strategi peningkatan pembelajaran.
sumber : Antara

4 hours ago
4














































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5455219/original/006121400_1766639015-IMG-20251002-WA0019.jpg)


