Bank Syariah Dinilai Lebih Efisien, Jumlahnya yang Terbatas Jadi Tantangan

3 hours ago 2

Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Anggito Abimanyu saat melakukan pemantauan Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) di Bekasi, Jawa Barat, Senin (9/2/2026). OJK bekerja sama dengan BPS dan LPS mengadakan pemantauan SNLIK 2026 untuk mengukur tingkat literasi dan inklusi keuangan masyarakat yang menyasar 75.000 responden di 38 provinsi dengan mencakup 514 kabupaten/kota di seluruh Indonesia. 

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Anggito Abimanyu menyebut bank syariah saat ini mulai menunjukkan efisiensi yang mampu bersaing dengan bank konvensional, terutama pada kelompok bank dengan skala yang setara.

“Kalau dibandingkan dengan size yang sama, bank syariah lebih efisien daripada bank umum konvensional,” kata Anggito, dalam acara Talkshow dan Halal Bihalal Forum Group (FG) Ekonomi dan Keuangan Syariah PP-ISEI 2026 di BSI Tower Jakarta, Selasa (14/4/2026).

Ia menjelaskan, dari sisi pricing maupun layanan, bank syariah sudah hampir setara dengan bank konvensional pada kelas yang sama. Namun, jumlah bank syariah yang masih terbatas menjadi kendala dalam menjangkau kebutuhan nasabah secara luas.

“Kalau jumlah bank syariah hanya sedikit, saya kira tidak cukup untuk bisa melayani konsumen secara keseluruhan,” ujarnya.

Anggito menambahkan, saat ini baru ada sedikit bank syariah dengan skala besar. Salah satunya Bank Syariah Indonesia (BSI) dengan aset sekitar Rp460 triliun, sementara bank syariah lain yakni Bank Syariah Nasional (BSN) masih di Rp 76 triliun. 

Selain itu, ia juga menyinggung kondisi likuiditas perbankan yang masih cukup longgar. Hal itu terlihat dari pertumbuhan simpanan yang lebih tinggi dibandingkan kredit.

“Pertumbuhan simpanan di atas 10 persen, sementara kredit di bawah 10 persen,” katanya.

Menurut dia, kondisi tersebut menunjukkan permintaan pembiayaan belum sepenuhnya kuat. Akibatnya, dana masih tertahan di perbankan.

Ia juga menyebut simpanan dalam jumlah besar, terutama di atas Rp5 miliar, masih didominasi oleh korporasi.

“Ada dua. Pertama, bisnisnya menghasilkan likuiditas. Kedua, dananya belum terserap,” ucap Anggito.

Read Entire Article
Food |