REPUBLIKA.CO.ID, SOLO -- Pameran pendidikan sering dipahami sekadar sebagai ajang adu brosur dan spanduk kampus. Namun bagi Ahmad Fauzi, Kepala Kampus Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) kampus Solo, kehadiran kampus di ruang seperti ini justru punya makna yang jauh lebih personal dan strategis.
Itulah yang melatarbelakangi keikutsertaan UBSI Kampus Solo dalam pameran pendidikan yang diselenggarakan MGBK Ngawi di Gedung Pertemuan Notosuman, Ngawi, Jawa Tengah, Ahad, 11 Januari 2026 mendatang.
Bagi Ahmad, membuka booth di pameran pendidikan bukan soal promosi sepihak, melainkan soal hadir dan mendengarkan.
Ia memandang siswa SMA dan SMK hari ini hidup di tengah kebingungan yang wajar memilih kampus, jurusan, dan masa depan, di tengah derasnya informasi yang sering kali justru membingungkan.
Karena itu, menurutnya, kampus tidak bisa hanya menunggu calon mahasiswa datang, tetapi harus aktif turun ke ruang-ruang dialog seperti pameran pendidikan.
“Banyak siswa sebenarnya pintar dan punya potensi besar, tapi ragu melangkah karena kurang informasi atau merasa dunia kuliah itu mahal dan jauh dari jangkauan mereka. Di pameran seperti ini, kami ingin membuktikan kampus bisa hadir lebih dekat, lebih manusiawi, dan lebih terbuka,” ungkap Ahmad Fauzi dalam keterangan Kamis (8/1/2026).
Ia menilai pameran MGBK Ngawi menjadi ruang yang sangat relevan karena mempertemukan siswa dari berbagai daerah, mulai dari Ngawi, Sragen, Solo, hingga Madiun.
Keragaman latar belakang tersebut, menurutnya, mencerminkan realitas calon mahasiswa Indonesia yang tidak seragam, baik dari sisi ekonomi, minat, maupun kesiapan mental memasuki dunia perguruan tinggi.
Karena itu, UBSI kampus Solo tidak hanya membuka booth informasi, tetapi juga menghadirkan pendekatan yang lebih cair melalui games spin berhadiah dan penjelasan langsung terkait peluang beasiswa.
Bagi Ahmad, pendekatan ini bukan sekadar gimmick, melainkan cara membangun percakapan dua arah yang lebih santai dan jujur dengan para siswa.
“Kalau kita mau bicara masa depan, jangan dimulai dengan tekanan. Biarkan siswa bertanya dengan bebas, tertawa, main sebentar, lalu pelan-pelan kita ajak mereka berpikir tentang pilihan hidupnya. Dari situ, diskusi soal jurusan, karier, dan beasiswa jadi lebih mengalir,” ujarnya.
Ahmad juga menekankan pentingnya peran guru BK dalam menjembatani siswa dengan dunia perguruan tinggi. Menurutnya, MGBK bukan hanya penyelenggara acara, tetapi mitra strategis kampus dalam memastikan siswa tidak salah arah ketika mengambil keputusan besar dalam hidupnya.
Ia memandang pameran ini sebagai contoh kolaborasi sehat antara dunia sekolah dan perguruan tinggi. Di tengah perubahan dunia kerja yang semakin cepat dan digital, Ahmad percaya kampus memiliki tanggung jawab moral untuk memberi gambaran realistis kepada siswa.
Bukan menjanjikan kesuksesan instan, melainkan menunjukkan proses, tantangan, dan peluang yang bisa ditempuh jika mereka mau belajar dan berkembang.
“Kampus itu bukan tujuan akhir. Kampus adalah jembatan. Tugas kami memastikan jembatan itu bisa diakses siapa saja yang mau menyeberang, tanpa merasa takut atau minder,” katanya.
Melalui kehadiran UBSI kampus Solo di pameran pendidikan MGBK Ngawi, Ahmad berharap siswa tidak hanya pulang membawa brosur, tetapi juga pulang dengan keberanian untuk bermimpi dan keyakinan bahwa masa depan bisa direncanakan sejak sekarang.
Bagi UBSI, membuka booth bukan sekadar membuka stan, tetapi membuka ruang harapan dan kemungkinan.

22 hours ago
4















































