Ciri Disleksia pada Anak yang Wajib Dikenali Orang Tua dan Guru

3 hours ago 7

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Membaca kata yang sederhana bisa menjadi tantangan berat bagi anak dengan disleksia. Menurut dokter spesialis anak subspesialis tumbuh kembang, dr Farid Agung Rahmadi, disleksia adalah specific learning disorder (SLD) yang berfokus pada hambatan membaca.

Kondisi ini membuat anak sulit membedakan bunyi huruf dan mengeja sehingga mereka sering keliru mengenali kata. "Karena mengenal bunyi huruf saja sulit gitu ya, akibatnya anak jadi salah baca dan akan lambat serta mudah lelah saat membaca. Tentu saja anak juga akan sulit memahami isi bacaan," kata dr Farid dalam webinar Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) dipantau Republika di Jakarta, Selasa (15/9/2026).

Namun menurut dr Farid, kesulitan anak dengan disleksia hanya terletak pada proses menerima informasi melalui membaca. Ketika informasi yang sama dibacakan oleh orang lain, anak akan lebih memahami isi cerita atau informasi tersebut.

"Jadi betul-betul kesulitannya di menerima informasi membaca, Bukan menerima informasi kalau dibacakan oleh orang lain," kata dia.

Ada beberapa tanda disleksia yang dapat dikenali orang tua maupun guru sejak anak berada di sekolah dasar, terutama kelas 1 hingga 3. Dokter Farid menjelaskan, pada usia tersebut, anak dapat mengalami kesulitan mempelajari hubungan antara huruf dan bunyinya. Anak juga sulit mengeja atau membaca kata sederhana dibandingkan teman sebaya.

Tanda lainnya adalah anak cenderung menghindari kegiatan membaca atau menulis. Anak juga dapat cepat lelah, mengeluh pusing dan mengantuk ketika mengerjakan pekerjaan rumah. "Hasil tes lisan yang jauh lebih baik daripada tes tertulis juga bisa menjadi tanda disleksia," kata dr Farid.

Memasuki kelas 4 hingga 6, tanda tersebut dapat terlihat dari nilai mata pelajaran tertentu yang konsisten rendah. Anak juga bisa membutuhkan waktu yang sangat lama untuk mengerjakan soal-soal di kelas maupun pekerjaan rumah.

Kondisi tersebut, jika berlangsung terus-menerus, dapat mulai memengaruhi kondisi emosional anak. Menurut dr Farid, anak bisa mengalami stres, sering menangis hingga mengeluarkan pernyataan bahwa dirinya merasa bodoh. Kondisi ini menunjukkan self-esteem atau penghargaan terhadap diri sendiri mulai menurun.

"Dampaknya dapat berlanjut pada kondisi emosional dan perilaku. Kepercayaan diri anak dapat menjadi rendah dan anak mudah marah ketika diminta belajar. Jangka panjangnya bahkan bisa menjadi gangguan cemas, bahkan depresi," kata dr Farid.

Read Entire Article
Food |