REPUBLIKA.CO.ID, HALMAHERA — Aktivitas pertambangan di kawasan dengan keanekaragaman hayati tinggi membutuhkan pemantauan ekosistem secara berkelanjutan. Di Halmahera, Maluku Utara, pemantauan flora dan fauna diperluas untuk melihat perubahan kondisi biodiversitas sekaligus menjadi dasar pengelolaan habitat di wilayah operasional pertambangan.
PT Weda Bay Nickel (WBN) bersama Universitas Khairun kini melakukan pemantauan keanekaragaman hayati di 40 titik, meningkat dari sebelumnya enam titik. Kolaborasi riset tersebut telah berlangsung selama sekitar empat tahun.
Peneliti dan Dosen Universitas Khairun M. Natsir Tamalene mengatakan perluasan titik pemantauan penting karena Halmahera berada di kawasan Wallacea, wilayah peralihan yang memiliki tingkat endemisitas tinggi. Sejumlah spesies di kawasan tersebut juga memiliki persebaran geografis yang terbatas.
“Karena itu, pemantauan yang dilakukan secara berulang dan di berbagai titik penting untuk melihat perubahan kondisi keanekaragaman hayati dari waktu ke waktu, bukan hanya memperoleh gambaran pada satu periode tertentu,” ujar Natsir.
Dari pemantauan tersebut, tim peneliti telah memverifikasi sekitar 249 spesies tumbuhan. Sebanyak 8,8 persen di antaranya merupakan spesies endemik lokal, sedangkan 5,6 persen memiliki persebaran regional hingga Papua dan 1,2 persen tersebar antarkawasan hingga Filipina. Sekitar 63 persen spesies tumbuhan ditemukan di habitat primer.
Pemantauan juga mengidentifikasi 53 spesies burung, 28 serangga, delapan mamalia, delapan amfibi, empat fauna tanah, dan tiga reptil. Selain itu, terdapat 35 trigger species fauna dan 18 spesies yang dilindungi pemerintah Indonesia.
Salah satu temuan yang menjadi perhatian adalah Tikus Duri Boki Mekot (Halmaheramys bokimekot), mamalia endemik Halmahera dengan wilayah persebaran yang sangat terbatas. Keberadaan spesies tersebut terekam melalui camera trap dan Sherman traps di salah satu titik pemantauan WBN.
Natsir menjelaskan, karakteristik setiap kelompok fauna membuat metode pemantauan perlu disesuaikan. Burung diamati melalui perjumpaan langsung dan suara, sementara mamalia antara lain dipantau menggunakan camera trap. Kelelawar, reptil, mamalia kecil, dan fauna malam juga menggunakan metode serta perangkap yang sesuai dengan karakteristik masing-masing.
Senior Rehabilitation Superintendent Weda Bay Nickel Fitri Rahmadani Ritonga mengatakan pemantauan biodiversitas tidak semata dilakukan untuk memenuhi kewajiban perusahaan. Data yang diperoleh digunakan sebagai dasar dalam menentukan pengelolaan dan pengembangan program keanekaragaman hayati.
Menurut Fitri, hasil pemantauan dapat menunjukkan area yang memiliki nilai biodiversitas lebih tinggi. Informasi tersebut kemudian menjadi pertimbangan dalam perencanaan program keanekaragaman hayati dan pengelolaan lingkungan yang tercantum dalam Rencana Aksi Keanekaragaman Hayati Weda Bay Nickel.
WBN juga memperkuat basis data biodiversitas melalui Critical Habitat Assessment (CHA). Kajian tersebut mencakup survei terhadap 146 spesies target yang masuk kategori Critically Endangered, Endangered, Vulnerable, serta spesies yang dilindungi pemerintah Indonesia.
Dari kajian tersebut, sebanyak 111 spesies diidentifikasi sebagai pemicu habitat kritis. Hasilnya menjadi salah satu dasar penyusunan Biodiversity Action Plan.
Natsir mengatakan perubahan dan fragmentasi habitat dapat memberikan dampak berbeda terhadap setiap spesies. Satwa dengan pergerakan terbatas maupun yang bergantung pada koridor ekologis dan pohon bertengger, misalnya, lebih rentan ketika habitatnya mengalami perubahan.
Begitu pula dengan tumbuhan yang memiliki persebaran geografis terbatas atau bergantung pada kondisi habitat tertentu. Kehilangan habitat dapat meningkatkan risiko terhadap keberlangsungan spesies tersebut.
Karena itu, hasil pemantauan dan kajian habitat digunakan untuk mengidentifikasi kawasan dengan nilai biodiversitas tinggi dan mendukung perencanaan area preservasi di wilayah operasional perusahaan.
Di tingkat operasional, WBN juga menerapkan ketentuan perlindungan satwa bagi pekerja dan mitra kerja, termasuk larangan menangkap dan memperdagangkan satwa liar. Mitigasi dilakukan melalui prosedur pengelolaan kegiatan operasional, pengelolaan area bernilai biodiversitas tinggi, serta pemasangan rambu dan papan peringatan perlindungan satwa.
Fitri mengatakan pemantauan lapangan, kolaborasi dengan akademisi, kajian habitat, dan penerapan Biodiversity Action Plan diarahkan untuk memperkuat pengelolaan keanekaragaman hayati berbasis data.
“Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga fungsi ekologis kawasan sekaligus mendukung keberlanjutan lingkungan di tengah kegiatan operasional pertambangan di Halmahera,” kata Fitri.

2 hours ago
6














































