Debit Air Menyusut Akibat Kemarau, Hamparan Sampah dan Sedimentasi Muncul di Sungai Citarum

9 hours ago 6

REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG BARAT -- Debit air di Sungai Citarum Blok Jembatan Babakan Sapan (BBS), Kabupaten Bandung Barat (KBB), Jawa Barat mengalami penyusutan akibat kemarau panjang. Sungai Citarum merupakan pemasok air untuk kebutuhan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Saguling.

Berdasarkan pantauan Republika pada Sabtu (22/8/2026), hamparan sedimentasi berupa lumpur bercampur sampah sudah nampah ke permukaan menyerupai daratan di Sungai Citarum. Menurutnya debit air di sungai terpanjang di Jawa Barat Blok BBS itu sudah terjadi dalam sebulan terakhir.

"Iya emang airnya surut udah sebulan terakhir. Biasanya enggak sampe kayak gini (terlihat sedimentasinya). Kayaknya gara-gara kemarau lama," kata Restu Nugraha (35 tahun), salah seorang warga.

Menurutnya, penurunan permukaan air di Sungai Citarum di musim kemarau yang diperkuat dengan fenomena El Nino tahun ini cukup parah. Kondisinya mirip musik kemarau 2023 yang juga berlangsung cukup lama.

"Ini lumayan drastis penurunan debitnya. Ada mungkin 2-3 meter berkurang kedalamannya," ujar Restu.

Menyusutnya debit air di Sungai Citarum itu berdampak terhadap pasokan yang masuk ke Waduk Saguling. Meski begitu, produksi listrik yang dihasilkan dari bendungan yang dikelola PT PLN Indonesia Power (PLN IP) masih normal.

Manajer Sipil PLTA Saguling, Praja Mukti Ediatmaja mengungkapkan, debit air yang masuk ke Waduk Saguling mengalami penurunan cukup besar dibandingkan saat puncak musim penghujan. Saat musim hujan, debitnya bisa mencapai 155-200 meter kubik per detik. Namun selama Agustus 2026 berkisar antara 10 hingga 18 meter kubik per detik.

"Debit air masuk berkisar antara 10-18 m3/detik untuk bulan Agustus, puncak musim penghujan bisa mencapai 155-200 m3/detik," kata Praja saat dikonfirmasi, Jumat (21/8/2026).

Meski begitu, kata dia, kondisi tinggi muka air waduk saat ini masih berada dalam batas operasi normal. Praja menjelaskan, pada kondisi kemarau, batas atas tinggi muka air Waduk Saguling berada di angka 640 meter di atas permukaan laut (mdpl), sedangkan batas operasi bawah berada pada 636 mdpl. Dengan demikian, posisi muka air saat ini masih berada di antara batas aman operasi pembangkit listrik.

"Namun demikian kondisi Tinggi Muka Air Waduk Saguling saat ini masih di batas operasi normal yaitu 638 mdpl," ujar Praja.

Meski pasokan air berkurang, kondisi tersebut belum membuat operasional PLTA Saguling terganggu secara signifikan. Produksi listrik dari Saguling berfungsi untuk mendukung beban puncak di sistem Jawa-Bali dan berfungsi sebagai pengatur frekuensi sistem dengan menerapkan load frequency control (LFC).

Read Entire Article
Food |