Zalfa Mufida
Gaya Hidup | 2026-07-29 19:12:59
"Kamu kan kakak."Kalimat ini mungkin terdengar sederhana. Namun, bagi sebagian anak pertama, kalimat tersebut bukan hanya pengingat akan urutan kelahiran, melainkan juga simbol dari harapan, tanggung jawab, bahkan tuntutan yang datang sejak usia dini. Tanpa disadari, banyak anak pertama tumbuh dengan keyakinan bahwa menjadi kakak berarti harus lebih dewasa, lebih sabar, dan lebih mengalah dibandingkan saudara-saudaranya.
Sejak kecil, anak pertama sering menjadi sosok yang diminta memahami keadaan. Ketika adik berbuat salah, kakak diminta mengalah karena dianggap lebih mengerti. Ketika orang tua sedang sibuk, kakak dipercaya menjaga adik. Bahkan ketika terjadi konflik, tidak jarang kalimat "kamu kan kakak" menjadi alasan mengapa ia diharapkan menahan emosi lebih dulu. Perlahan, tanggung jawab tersebut menjadi bagian dari keseharian.
Di sisi lain, menjadi anak pertama juga berarti belajar banyak hal tanpa memiliki contoh dari saudara yang lebih tua. Mereka menjadi orang pertama yang mengalami berbagai fase kehidupan dalam keluarga, mulai dari aturan yang masih sangat ketat hingga ekspektasi yang tinggi terhadap pendidikan maupun perilaku. Tidak sedikit yang tumbuh dengan rasa takut mengecewakan orang tua karena merasa harus menjadi teladan bagi adik-adiknya.
Namun, menjadi kakak bukan berarti tidak memiliki rasa lelah. Anak pertama tetaplah seseorang yang bisa merasa kecewa, takut, bingung, bahkan ingin dimengerti. Sayangnya, perasaan tersebut sering kali dipendam karena terbiasa dianggap mampu menghadapi semuanya. Akibatnya, banyak anak pertama yang kesulitan meminta bantuan atau mengungkapkan apa yang sebenarnya mereka rasakan.
Hal ini bukan berarti semua keluarga memperlakukan anak pertama dengan cara yang sama. Setiap keluarga memiliki pola asuh dan dinamika yang berbeda. Ada banyak orang tua yang berhasil membangun hubungan yang hangat dengan semua anak tanpa membedakan beban tanggung jawab. Namun, tidak dapat dipungkiri bahwa ekspektasi terhadap anak sulung masih menjadi fenomena yang cukup sering dijumpai dalam kehidupan sehari-hari.
Pada akhirnya, kalimat "kamu kan kakak" seharusnya tidak menjadi alasan untuk mengabaikan perasaan seorang anak. Mengajarkan tanggung jawab memang penting, tetapi memberikan ruang untuk merasa lelah, gagal, dan didengar juga sama pentingnya. Sebab, anak pertama tidak dilahirkan dengan kemampuan untuk selalu kuat. Mereka belajar menjadi dewasa melalui proses yang panjang, sama seperti saudara-saudaranya.
Mungkin, sesekali yang dibutuhkan anak pertama bukanlah pengingat bahwa mereka adalah kakak, melainkan kalimat sederhana yang mengatakan, "Tidak apa-apa kalau kamu juga sedang lelah." Sebab, di balik sosok yang sering dianggap paling kuat, ada seseorang yang juga ingin dipeluk tanpa harus selalu menjadi sandaran bagi orang lain.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

2 hours ago
3






















:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5543643/original/041077600_1775031375-WhatsApp_Image_2026-04-01_at_14.33.02__1_.jpeg)








:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5510193/original/003574000_1771822191-pexels-shameel-mukkath-3421394-5817525.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5559034/original/060735700_1776504757-pexels-loquellano-16123121.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5536549/original/029350900_1774329970-pexels-elletakesphotos-5764077.jpg)



:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5533152/original/011571400_1773724986-view-delicious-goulash-with-herbs.jpg)


