REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Sebanyak 120 peserta yang tergabung dalam Tim Ekspedisi Patriot Universitas Indonesia (UI) 2026 diterjunkan ke Kawasan Transmigrasi Werianggi–Werabur, Distrik Nikiwar, Kabupaten Teluk Wondama, Papua Barat. Mereka akan tinggal bersama masyarakat selama empat bulan untuk memetakan potensi dan persoalan sekaligus menjalankan sejumlah program pemberdayaan.
Sebanyak 20 tim dari berbagai disiplin ilmu terlibat dalam ekspedisi tersebut. Program yang dijalankan mencakup peningkatan layanan kesehatan, penguatan infrastruktur dasar, pengembangan komoditas unggulan, pemberdayaan masyarakat, penguatan kelembagaan ekonomi, energi, hingga pendidikan.
Werianggi–Werabur merupakan kawasan yang dihuni Orang Asli Papua (OAP), masyarakat transmigran, serta migran mandiri. Keberagaman tersebut menjadikan kawasan ini sebagai ruang perjumpaan berbagai latar belakang masyarakat sekaligus menyimpan potensi pengembangan ekonomi dan sosial.
Untuk mencapai kawasan tersebut, peserta Ekspedisi Patriot harus menempuh perjalanan panjang. Setelah tiba di Manokwari menggunakan pesawat, rombongan melanjutkan perjalanan laut selama sekitar enam jam menuju Pelabuhan Windesi. Kapal penumpang yang melayani rute tersebut hanya beroperasi sekali dalam sepekan.
Dari Windesi, perjalanan dilanjutkan melalui jalur darat selama sekitar 50 menit menuju lokasi kegiatan. Rombongan tiba di Kampung Werianggi pada Selasa malam dan disambut kepala kampung serta tokoh adat melalui prosesi adat.
Salah satu kelompok yang diterjunkan adalah Tim 4 yang mengusung program Edukasi Literasi Digital dan Harmonisasi Hukum Adat–Negara. Program tersebut diarahkan untuk meningkatkan kemampuan masyarakat memanfaatkan teknologi digital secara produktif sekaligus memperkuat pemahaman mengenai hubungan hukum adat dengan hukum negara.
Koordinator Lapangan Tim 4 Ekspedisi Patriot UI 2026, Azra Batrisya, mengatakan literasi digital yang dikembangkan tidak berhenti pada kemampuan menggunakan teknologi. Masyarakat didorong memanfaatkan ruang digital untuk memperluas pasar dan meningkatkan pendapatan.
"Kami ingin literasi digital menjadi pintu masuk bagi masyarakat untuk memperluas akses pasar dan meningkatkan pendapatan, misalnya dengan memasarkan hasil pertanian, produk UMKM, maupun potensi lokal melalui berbagai platform digital dan e-commerce," ujar Azra.
Menurut dia, penguatan literasi digital dilakukan beriringan dengan peningkatan pemahaman masyarakat terhadap hukum adat dan hukum negara.
"Harapannya, masyarakat mampu mengelola potensi desanya secara lebih mandiri, produktif, dan tetap berakar pada identitas budayanya," kata Azra.

13 hours ago
8


































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5536549/original/029350900_1774329970-pexels-elletakesphotos-5764077.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5559034/original/060735700_1776504757-pexels-loquellano-16123121.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5533152/original/011571400_1773724986-view-delicious-goulash-with-herbs.jpg)







:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5553455/original/015319200_1775973861-WhatsApp_Image_2026-04-12_at_12.56.06.jpeg)