El Nino Ancam Hasil Panen di Bandung Barat, Petani Diimbau tak Paksakan Tanam Padi

3 hours ago 3

REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG BARAT -- Potensi kemarau panjang akibat fenomena El Nino seperti yang diprediksi Badan Metreologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengancam hasil panen di Kabupaten Bandung Barat (KBB), Jawa Barat. Kondisi serupa terjadi di tahun 2023, ketika produksi gabah di Bandung Barat mengalami penurunan sekitar 5 hingga 7 persen dari target tahunan akibat kekeringan.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian KBB Lukmanul Hakim mengatakan, apabila intensitas kekeringan tahun ini meningkat hingga kategori ekstrem, penurunan produksi gabah diperkirakan bisa mencapai 10 hingga 15 persen, terutama di wilayah sawah tadah hujan.

"Kerugian terbesar biasanya terjadi akibat gagal panen atau puso pada lahan tadah hujan. Sementara pada lahan yang masih dapat dipanen, kualitas hasil panen cenderung menurun karena meningkatnya jumlah gabah hampa," kata Lukmanul saat dikonfirmasi, Sabtu (13/6/2026).

Namun hingga saat ini, produksi gabah Bandung Barat masih menunjukkan capaian positif. Selama periode Januari hingga Mei 2026, produksi gabah tercatat mencapai 112.351 ton Gabah Kering Panen (GKP). Jumlah tersebut setara dengan 96.645 ton Gabah Kering Giling (GKG) atau sekitar 60.615 ton beras, atau 49,4 persen dari target produksi gabah tahun 2026.

"Potensi lahan pertanian yang terdampak kekeringan mencapai 2.302 hektare. Lahan tersebut umumnya merupakan sawah tadah hujan, kawasan tanpa jaringan irigasi, serta daerah irigasi yang mengalami kerusakan," terang di.

Pihaknya, kata Lukmanul, mulai menyiapkan berbagai langkah antisipasi menghadapi musim kemarau panjang yang berpotensi dipicu fenomena El Nino itu. Salah satu upaya yang dilakukan adalah memperkuat infrastruktur pengairan pertanian serta menyalurkan bantuan pompanisasi untuk menjaga produktivitas lahan pertanian.

Menurut dia, penguatan infrastruktur pengairan dilakukan dengan mengoptimalkan pemanfaatan mesin pompa air di daerah yang masih memiliki sumber air. Selain itu, pemerintah juga memaksimalkan fungsi irigasi perpompaan, jaringan irigasi air tanah, irigasi perpipaan, serta jaringan irigasi primer, sekunder, dan tersier.

Di sisi budidaya, petani didorong menerapkan teknik pertanian hemat air melalui penyesuaian musim tanam, penggunaan varietas tanaman tahan kekeringan seperti padi Inpago dan berbagai jenis palawija, penerapan metode System Rice Intensification (SRI), penggunaan mulsa, hingga diversifikasi tanaman.

"Penguatan kelembagaan juga dilakukan melalui sinergi kelompok tani bersama Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL), Pengendali Organisme Pengganggu Tanaman (POPT), serta pendampingan dari TNI dan Polri," ujar Lukmanul.

Read Entire Article
Food |