ESDM: Selat Hormuz Dibuka, Sinyal Positif bagi Pasokan Energi

5 hours ago 6

Kapal-kapal kargo terlihat di Teluk Persia dekat Pulau Qeshm di provinsi Hormozgan, Iran, 23 Desember 2011 (diterbitkan ulang 20 Maret 2026). 70% pengiriman maritim di Selat Hormuz telah menurun sejak ketegangan di kawasan Teluk Persia meningkat pada 28 Februari 2026.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyampaikan pembukaan kembali Selat Hormuz oleh Pemerintah Iran menjadi sinyal meredanya ketegangan geopolitik global. Perkembangan ini membawa optimisme terhadap stabilisasi pasokan energi dunia.

Pemerintah Indonesia merespons positif langkah tersebut karena jalur strategis itu kembali terbuka untuk pelayaran komersial internasional. Risiko gangguan distribusi energi global pun mulai menurun.

“Pembukaan kembali Selat Hormuz merupakan perkembangan yang sangat positif bagi stabilitas pasokan energi global, termasuk Indonesia. Ini memberikan kepastian terhadap jalur distribusi energi yang sebelumnya sempat terganggu akibat dinamika geopolitik,” kata juru bicara Kementerian ESDM Dwi Anggia di Jakarta, dikutip Sabtu (18/4/2026).

Ia menjelaskan pemerintah telah menyiapkan langkah antisipasi sejak awal menghadapi ketidakpastian global. Langkah itu mencakup penguatan stok nasional serta diversifikasi sumber energi. Upaya tersebut menjaga ketahanan energi nasional tetap stabil ketika jalur distribusi sempat terganggu akibat dinamika kawasan Timur Tengah. Pemerintah memastikan pasokan dalam negeri tetap aman selama periode ketidakpastian.

“Dengan dibukanya kembali Selat Hormuz, tekanan terhadap rantai pasok global mulai mereda, termasuk terhadap pergerakan harga minyak dunia yang menunjukkan tren penurunan,” ujar Anggia.

Otoritas Iran sebelumnya mengumumkan pembukaan kembali Selat Hormuz bagi seluruh pelayaran komersial internasional. Keputusan ini sejalan dengan perkembangan situasi kawasan yang mulai menunjukkan penurunan eskalasi. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi menegaskan jalur pelayaran tersebut telah kembali dibuka sepenuhnya untuk semua kapal komersial.

“Sejalan dengan gencatan senjata di Lebanon, jalur bagi semua kapal komersial melalui Selat Hormuz dinyatakan sepenuhnya terbuka,” ujar Abbas.

Respons pasar global terlihat dari penurunan harga minyak yang cukup signifikan. Kondisi ini mencerminkan meredanya kekhawatiran terhadap gangguan pasokan energi dunia. Selat Hormuz selama ini menjadi jalur vital distribusi minyak dan gas global yang menentukan kelancaran rantai pasok energi internasional.

Kementerian ESDM juga terus mengoordinasikan upaya agar kapal milik Pertamina yang sempat tertahan di kawasan tersebut dapat segera melintas. Pemerintah membuka jalur komunikasi dengan otoritas terkait. “Pemerintah terus melakukan upaya negosiasi agar kapal milik Indonesia bisa melintas. Sebelumnya sudah ada sinyal positif dari pemerintah Iran terkait hal ini. Kita berharap proses pelayaran bertahap mulai kembali normal,” kata Anggia.

Pemerintah terus memantau perkembangan situasi global dan menyiapkan langkah responsif. Ini demi menjaga stabilitas pasokan energi domestik.

Read Entire Article
Food |