Gontor: Pendidikan Holistik Bukan Konsep Baru, Sudah Dipraktikkan Sejak Awal

3 hours ago 7

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Pondok pesantren dinilai memiliki modal kuat untuk menjawab tantangan pendidikan global karena sejak lama tidak menempatkan pendidikan sebatas kegiatan belajar di ruang kelas. Sistem kehidupan berasrama, integrasi ilmu agama dan umum, pembentukan karakter, keterampilan, hingga pendidikan sosial membuat pesantren modern memiliki banyak unsur yang belakangan dikenal dunia sebagai pendidikan holistik.

Hal itu mengemuka dalam Global Islamic Holistic Education Summit (GIHES) di Jakarta, Sabtu (5/9/2026). Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG) KH Akrim Mariyat mengatakan gagasan pendidikan holistik yang kini banyak dibicarakan dunia sesungguhnya mempunyai titik temu kuat dengan sistem pendidikan yang telah lama berkembang di pesantren.

“Seminar ini tentang pendidikan global, pendidikan holistik. Apa kaitannya antara pondok modern dan pendidikan global atau holistik ini?” ujar KH Akrim.

Menurut dia, PMDG berdiri pada 1926, sedangkan pendidikan holistik sebagai wacana global baru ramai dibicarakan beberapa dekade kemudian. Pada masa awal, kata dia, pendidikan di Gontor dimulai dari hal yang sangat sederhana dan dekat dengan kebutuhan masyarakat.

“Kita di Gontor pada 1926 dimulai dari pendidikan yang sangat sederhana sekali,” kata Akrim. Anak-anak dan masyarakat ketika itu, lanjut dia, antara lain diajarkan bersuci, mandi, shalat, kesehatan, serta dasar-dasar kehidupan sehari-hari.

Dari pendidikan sederhana tersebut, Gontor kemudian berkembang tanpa meninggalkan karakter dasarnya sebagai pondok. Akrim menegaskan istilah “modern” tidak menghilangkan identitas pesantren sebagai lembaga pendidikan khas Nusantara.

“Meski modern, tetap pondok. PMDG adalah pondok. Ini asli Indonesia,” ujarnya.

Ia membandingkan orientasi pendidikan pesantren dengan sistem sekolah yang berkembang pada masa kolonial. Menurut Akrim, pendidikan kolonial ketika itu salah satunya diarahkan untuk memenuhi kebutuhan pegawai pemerintahan. Gontor, kata dia, tidak dibangun dengan orientasi semacam itu.

“Tujuan kita menjadikan santri-santri kita berbudi tinggi, berbadan sehat, berpengetahuan luas, berpikiran bebas, dan berjiwa besar,” kata Akrim.

Empat orientasi tersebut, menurut dia, tidak dimaksudkan hanya menjadi slogan pendidikan. Seluruh alumni diharapkan membawa karakter tersebut ketika kembali ke masyarakat dan menjalani bidang pengabdian masing-masing.

Agama, Ilmu Umum dan Keterampilan

Akrim mengatakan salah satu perubahan penting yang dibawa Gontor ialah tidak membatasi pendidikan pesantren pada ilmu-ilmu keagamaan. Menurut dia, sejak periode awal pengembangannya, pelajaran umum dan keterampilan telah diperkenalkan kepada para santri.

“Dulunya pesantren tidak mengajarkan ilmu umum, tetapi Gontor sejak awal berdiri tahun 1926 sudah mengajarkan ilmu umum,” ujarnya.

Ia menyebut pendidikan keterampilan bahkan menjadi bagian dari proses tersebut. “Kita ajarkan pelajaran yang bersifat umum dan skill. Kita ajarkan menenun, juga masak, dan lain sebagainya,” kata Akrim.

Dalam kerangka itu, pendidikan tidak berhenti pada kemampuan mengetahui sesuatu. Peserta didik juga perlu dibekali kemampuan menjalani kehidupan bersama manusia lain.

“Perlu ada pendidikan untuk hidup, hidup bersama orang lain, supaya kita hidup berdiri bersama-sama yang lain,” katanya.

Akrim juga menekankan bahwa pencarian ilmu dalam pendidikan Islam memiliki orientasi spiritual. Pengetahuan tidak seharusnya membuat seseorang semakin jauh dari Tuhan, tetapi justru mengantarkannya kepada ketundukan.

“Belajar ilmu untuk ibadah,” ujarnya seraya mengutip ayat Alquran, wa yatafakkaruna fi khalqis-samawati wal-ardh. “Ilmu harus membuat orang tunduk. Semakin berilmu, semakin tunduk.”

Hamid: Pendidikan Konvensional Tak Lagi Cukup

Dalam forum yang sama, pendiri Institute for the Study of Islamic Thought and Civilizations (INSISTS), Prof Hamid Fahmy Zarkasyi, melihat kebutuhan terhadap pendidikan holistik semakin mendesak di tengah perkembangan digitalisasi dan kecerdasan buatan.

Menurut Hamid, sistem pendidikan yang terlalu berfokus pada hafalan, kecerdasan kognitif, dan kemampuan intelektual menghadapi tantangan besar ketika sebagian fungsi tersebut dapat dilakukan teknologi. Ia bahkan menilai “sistem pendidikan konvensional sudah tidak cukup kuat” menghadapi kompleksitas zaman modern.

Karena itu, pendidikan menurut Hamid perlu mengembangkan manusia secara lebih menyeluruh. Bukan hanya kecerdasan intelektual, tetapi juga kecerdasan emosional, spiritual, sosial, etika, dan estetika. Pendidikan semacam itu diperlukan agar peserta didik mempunyai ketahanan mental dan fleksibilitas menghadapi persoalan nyata di masyarakat.

Hamid menilai pesantren justru telah lama memiliki struktur yang memungkinkan pendidikan semacam itu berlangsung. Pondok modern menggabungkan intrakurikuler, kokurikuler, dan ekstrakurikuler sekaligus menyatukan pendidikan formal, nonformal, dan informal dalam satu lingkungan.

Dengan sistem tersebut, kampus pesantren secara bersamaan menjadi sekolah, rumah, sekaligus masyarakat.

Read Entire Article
Food |