Granada 1492 dan Jalan Panjang Kolonialisme di Nusantara

4 hours ago 2

Oleh : Fahmi Salim, Direktur Baitul Maqdis Institute

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Tepat 534 tahun silam pada tanggal 2 Januari 1492, Kerajaan Islam Granada akhirnya menyerah takluk kepada Raja Ferdinand 2 dari Argon dan Ratu Isabella 1 dari Kastela. Itu menandai berakhirnya dominasi kekuasaan Islam di Semenanjung Iberia, Spanyol dan Eropa Barat selama 7,5 abad sejak Islam masuk kesana pada tahun 711 M .

Namun sadarkah anda bahwa peristiwa kejatuhan Granada 1492 itu memicu perang global yang medannya menembus batas kawasan mediterania tapi juga meluas ke Teluk Persia, Samudera Hindia dan Nusantara yang berujung kepada kolonialisme Eropa di Nusantara?

Penaklukan Malaka oleh Portugis pada 1511 kerap dipahami sebagai awal kolonialisme Eropa di Nusantara. Namun, peristiwa itu sejatinya bukan titik mula, melainkan ujung dari rangkaian panjang krisis geopolitik dunia Islam.

Jatuhnya Granada pada 1492, berakhirnya kekuasaan Islam di Andalusia, serta rivalitas berdarah antara Kekaisaran Ottoman dan Dinasti Safavid pada awal abad ke-16 membentuk konteks global yang memungkinkan ekspansi Eropa ke Samudra Hindia dan Asia Tenggara. Kolonialisme di Nusantara lahir bukan di ruang hampa, melainkan di tengah dunia Islam yang sedang terfragmentasi.

Kolonialisme Eropa di Nusantara kerap dipahami sebagai akibat langsung dari kemajuan teknologi maritim dan ambisi ekonomi bangsa-bangsa Barat. Penjelasan ini tidak sepenuhnya keliru, namun terlalu sempit. Ia mengabaikan konteks geopolitik global yang lebih luas, khususnya dinamika dunia Islam pada abad ke-15 dan ke-16. 

Sesungguhnya, ekspansi Eropa ke Asia Tenggara—yang dimulai secara militer dengan penaklukan Malaka oleh Portugis pada tahun 1511—tidak dapat dilepaskan dari dua peristiwa besar: jatuhnya Granada pada tahun 1492 dan rivalitas geopolitik antara Kekaisaran Ottoman dan Dinasti Safavid sejak awal abad ke-16.

Granada 1492 dan Transformasi Eropa Katolik

Tahun 1492 menandai berakhirnya hampir delapan abad kekuasaan Islam di Andalusia dengan jatuhnya Granada, benteng terakhir Dinasti Nasrid. Kemenangan ini menyempurnakan Reconquista dan melahirkan negara Katolik Spanyol yang bersatu, militan, dan ideologis. Di saat yang sama, lembaga Inkuisisi dilembagakan, dan identitas Kristen Eropa dikonstruksi secara antagonistik terhadap Islam.

Pada tahun yang sama, Christopher Columbus berlayar ke barat dan membuka jalan kolonisasi Dunia Baru. Kebetulan kronologis ini mencerminkan satu proses historis yang sama: energi perang agama di Eropa dialihkan ke ekspansi global. Dengan demikian, kolonialisme awal Eropa tidak lahir dari logika ekonomi murni, melainkan sebagai kelanjutan konflik peradaban Islam–Kristen dalam skala dunia.

Konstantinopel 1453 dan Krisis Jalur Rempah

Empat dekade sebelum jatuhnya Granada, dunia telah berubah secara fundamental ketika Konstantinopel ditaklukkan Ottoman pada tahun 29 Mei 1453. Sejak saat itu, Kekaisaran Ottoman menguasai simpul utama perdagangan antara Asia dan Eropa, baik melalui Mediterania Timur maupun jalur darat Asia Tengah. Akibatnya, Eropa Barat mengalami ketergantungan akut pada perantara dagang Muslim, sementara harga rempah-rempah melonjak tajam.

Kondisi ini menciptakan krisis struktural bagi Eropa Katolik: ketergantungan ekonomi pada dunia Islam yang secara ideologis dipandang sebagai musuh. Maka, sejak akhir abad ke-15, Portugal mengembangkan proyek geopolitik besar untuk mencari jalur laut menuju Asia yang memotong jaringan perdagangan Islam. Proyek inilah yang kelak membawa Eropa ke Samudra Hindia dan Nusantara.

Rivalitas Ottoman–Safavid dan Fragmentasi Dunia Islam

Pada tahun 1501, berdirilah Dinasti Safavid di Persia di bawah Shah Ismail I. Dengan menjadikan Syiah Imamiyah Dua Belas sebagai mazhab negara, Safavid membangun identitas politik dan ideologis yang berseberangan dengan Ottoman Sunni, yang sejak 1453 mengklaim kepemimpinan dunia Islam. Rivalitas ini segera berubah menjadi konflik militer terbuka, yang puncaknya terjadi dalam Perang Chaldiran tahun 1514.

Konflik Ottoman–Safavid tidak berhenti pada satu pertempuran. Sepanjang paruh pertama abad ke-16, perang berulang terjadi di Anatolia Timur, Kaukasus, dan Irak hingga tercapainya Perjanjian Amasya pada 1555. Rivalitas ini menyedot sumber daya militer dunia Islam dan menciptakan fragmentasi strategis yang serius.

Portugal, Safavid, dan Celah Geopolitik

Dalam konteks rivalitas tersebut, Portugal tampil sebagai aktor eksternal yang cerdik memanfaatkan konflik internal dunia Islam. Pada tahun 1515, Portugal menguasai Hormuz, pintu masuk Teluk Persia. Kehadiran Portugis di kawasan ini berlangsung dengan toleransi—bahkan dukungan taktis—dari Safavid Persia, yang memandang Portugal sebagai penyeimbang kekuatan Ottoman.

Aliansi Safavid–Portugal bersifat pragmatis, bukan ideologis. Namun, secara geopolitik, dampaknya signifikan. Jalur selatan dunia Islam semakin terfragmentasi, dan upaya Ottoman untuk mengonsolidasikan kekuatan di Samudra Hindia menjadi tidak optimal. Celah inilah yang dimanfaatkan Portugal untuk meluaskan agresinya ke Asia Selatan dan Asia Tenggara.

Malaka 1511 dan Masuknya Nusantara ke Konflik Global

Puncak dari ekspansi awal Portugal terjadi ketika mereka menaklukkan Kesultanan Malaka pada tahun 1511. Malaka bukan sekadar pelabuhan dagang, melainkan simpul utama perdagangan rempah dunia Islam dan penghubung antara Timur Tengah, India, dan Nusantara. Jatuhnya Malaka menandai masuknya Nusantara ke dalam konflik global Islam–Eropa.

Setelah Malaka, Portugis bergerak cepat. Mereka tiba di Maluku pada 1512 dan membangun benteng di Ternate pada 1513. Dengan menguasai sumber cengkeh, Portugal berupaya memotong jalur suplai rempah Islam secara langsung. Bagi kerajaan-kerajaan Islam Nusantara, ini bukan sekadar ancaman ekonomi, melainkan serangan terhadap tatanan politik dan keagamaan regional.

Perlawanan Nusantara dan Keterbatasan Solidaritas Global

Kesultanan-kesultanan Islam Nusantara tidak pasrah. Aceh mulai berkonflik dengan Portugis sejak 1514 dan berkembang menjadi kekuatan regional di bawah Sultan Alauddin al-Kahar yang naik takhta pada 1537. Aceh secara aktif menjalin hubungan dengan Ottoman, dan pada 1569 menerima bantuan militer berupa meriam dan tenaga ahli.

Di Maluku, konflik memuncak ketika Sultan Khairun dari Ternate dibunuh Portugis pada 1570. Peristiwa ini memicu perlawanan besar yang berujung pada pengusiran Portugis dari Ternate pada 1575. Namun, meskipun perlawanan lokal kuat, dunia Islam tidak mampu menghadirkan respons global yang terkoordinasi, sebagian besar karena konflik multi-front yang dihadapi Ottoman.

Dari Portugal ke Kolonialisme Sistemik

Dominasi Portugis mulai melemah pada akhir abad ke-16, tetapi sistem kolonial yang mereka bangun diwarisi oleh kekuatan Eropa lain. Belanda tiba di Nusantara pada 1596, mendirikan VOC pada 1602, dan merebut Jayakarta pada 1619. Sejak titik ini, kolonialisme Eropa di Nusantara memasuki fase struktural dan jangka panjang.

Dengan demikian, kolonialisme Eropa di nusantara bukanlah peristiwa tunggal, melainkan proses berlapis yang berakar pada konflik global sejak 1453 dan 1492. Keunggulan teknologi Eropa hanya menjadi efektif ketika dunia Islam berada dalam kondisi terfragmentasi secara geopolitik.

Penutup

Jatuhnya Granada pada 1492 dan rivalitas Ottoman–Safavid sejak 1501 bukan peristiwa yang terpisah dari sejarah Nusantara. Keduanya membentuk konteks global yang memungkinkan ekspansi Eropa ke Samudra Hindia dan Asia Tenggara. Penaklukan Malaka pada 1511 dan intervensi di Maluku sejak 1512 menjadikan Nusantara bagian dari konflik dunia awal zaman modern.

Dalam perspektif ini, kolonialisme Eropa di Nusantara harus dipahami sebagai konsekuensi dari krisis geopolitik dunia Islam yang dimanfaatkan kekuatan eksternal. Nusantara bukan pinggiran sejarah, melainkan salah satu panggung penting dalam pertarungan global abad ke-16.

Sejarah kolonialisme Eropa di Nusantara memberi pelajaran penting bagi umat Islam hari ini. Kekalahan dan dominasi asing tidak selalu bermula dari ketertinggalan teknologi atau ekonomi, tetapi sering berakar pada kegagalan menjaga persatuan geopolitik dan membaca perubahan dunia. Jatuhnya Granada, rivalitas Ottoman–Safavid, dan terbukanya jalan kolonialisme di Nusantara menunjukkan bahwa konflik internal yang berkepanjangan dapat melemahkan daya tawar peradaban secara keseluruhan. 

Refleksi atas sejarah ini bukan untuk membuka luka lama, melainkan untuk menegaskan kembali bahwa kekuatan umat terletak pada kesadaran sejarah, kematangan politik, dan kemampuan membangun solidaritas lintas wilayah demi menjaga martabat dan masa depan bersama.

Jakarta, 2 Januari 2026

Read Entire Article
Food |