REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum) mempercepat agenda hilirisasi bauksit dan aluminium guna memperkuat kemandirian industri nasional di tengah tekanan volatilitas global.
Direktur Utama Inalum Melati Sarnita menyampaikan, tahun 2025 menjadi fase konsolidasi sekaligus akselerasi operasional yang menjadi fondasi ekspansi ke depan.
“Fokus kami pada peningkatan produksi, efisiensi operasional, dan penguatan fundamental bisnis. Ini menjadi dasar kuat untuk ekspansi,” ujar Melati dalam Rapat Dengar Pendapat dengan Komisi XII DPR RI, Senin (13/4/2026).
Dari sisi kinerja, Inalum mencatat pertumbuhan positif sepanjang 2025. Pendapatan tumbuh konsisten, EBITDA meningkat signifikan, dan laba bersih naik 15 persen secara tahunan menjadi 142,8 juta dolar AS. Sementara itu, rasio profitabilitas juga membaik dengan ROA mencapai 6 persen dan ROE sebesar 7 persen.
Menurut Melati, pertumbuhan tersebut tidak semata dipengaruhi harga komoditas, tetapi juga didorong efisiensi operasional dan optimalisasi proses bisnis.
Memasuki 2026, Inalum menggeser fokus dari perencanaan ke eksekusi proyek hilirisasi. Seluruh proyek strategis perusahaan telah masuk dalam Proyek Strategis Nasional (PSN) melalui Peraturan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Nomor 4 Tahun 2026.
Salah satu proyek utama adalah Smelter Grade Alumina Refinery (SGAR) fase 1 di Mempawah, Kalimantan Barat, yang progres konstruksinya telah mencapai 98,56% dan ditargetkan beroperasi penuh pada 2026. Proyek ini memiliki kapasitas produksi 1 juta ton alumina per tahun dengan nilai investasi sekitar 941 juta dolar AS.
Namun demikian, sejumlah tantangan masih dihadapi, terutama terkait pasokan bauksit, kapasitas tailing landfill, serta pembangunan infrastruktur hauling road yang terkendala pembebasan lahan.
Untuk memperkuat rantai pasok domestik, Inalum juga menyiapkan pengembangan SGAR fase 2 dengan tambahan kapasitas 1 juta ton alumina. Saat ini proyek masih dalam tahap penyusunan feasibility study dan finalisasi keputusan investasi.
Selain itu, Inalum menggarap proyek Smelter Aluminium II di Mempawah yang akan meningkatkan kapasitas produksi aluminium nasional dari 275 ribu ton menjadi 900 ribu ton per tahun. Proyek ini membutuhkan investasi sekitar 2,4 miliar dolar AS dengan target operasi pada 2029.
“Kunci dari proyek ini adalah kepastian energi jangka panjang. Kami merencanakan penggunaan PLTU selama 30 tahun dengan tarif listrik yang kompetitif,” jelas Melati.
Ia menambahkan, saat ini perusahaan tengah melakukan review skema kerja sama penyediaan listrik bersama PT Bukit Asam dan MIND ID.
Inalum juga menekankan pentingnya dukungan pemerintah dan DPR, khususnya dalam penguatan regulasi, pengawasan tata kelola, serta fasilitasi penyediaan energi.
Menurut perusahaan, percepatan hilirisasi aluminium berpotensi memberikan nilai tambah ekonomi signifikan hingga lebih dari 70 kali dibandingkan ekspor bahan mentah, sekaligus mengurangi ketergantungan impor dan memperkuat struktur industri nasional.
Dengan berbagai proyek yang berjalan, Inalum menargetkan dapat membangun rantai pasok aluminium terintegrasi dari hulu hingga hilir, sekaligus mendorong Indonesia menjadi pemain global di industri aluminium.

7 hours ago
7









































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5448189/original/093801500_1766021590-WhatsApp_Image_2025-12-18_at_07.55.13.jpeg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/2384766/original/020395400_1539683489-Jason_Leung.jpg)





