Hilirisasi Bauksit Jadi Kunci Kemandirian Aluminium Nasional

20 hours ago 5

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Indonesia memiliki modal kekayaan alam yang kuat, khususnya pada komoditas bauksit. Namun hingga kini, keunggulan geologis tersebut belum sepenuhnya mampu mengantarkan Indonesia mencapai kemandirian aluminium.

Kondisi ini menegaskan bahwa besarnya cadangan mineral tidak otomatis menjamin kemandirian industri tanpa dukungan rantai hilirisasi yang terintegrasi dari hulu hingga hilir.

Indonesia dinilai perlu memperkuat rantai pasok bauksit, alumina, hingga aluminium secara menyeluruh agar sumber daya alam yang dimiliki benar-benar mampu menopang kebutuhan bahan baku strategis bagi industrialisasi dan pembangunan peradaban masa depan.

Berdasarkan data US Geological Survey (USGS), cadangan bauksit dunia tercatat sekitar 30 miliar ton dengan produksi global mencapai 400 juta ton per tahun. Indonesia menempati posisi keenam dunia sebagai negara dengan cadangan bauksit terbesar, dengan total sumber daya sekitar 7,78 miliar ton dan cadangan terbukti mencapai 2,68 miliar ton.

Keunggulan ini seharusnya menjadi modal utama bagi Indonesia untuk mengembangkan industri aluminium nasional. Namun pada praktiknya, kebutuhan aluminium dalam negeri yang mencapai sekitar 1,2 juta ton per tahun belum dapat dipenuhi secara mandiri. Kekurangan pasokan tersebut masih ditutup melalui impor, di tengah dominasi pasar aluminium global oleh negara-negara seperti Australia, Guinea, dan China.

Ketua Badan Keahlian Pertambangan Persatuan Insinyur Indonesia (PII), Rizal Kasli, menilai persoalan utama Indonesia saat ini bukan terletak pada ketersediaan cadangan, melainkan pada kemampuan mengolah bauksit menjadi aluminium di dalam negeri. Menurutnya, tanpa percepatan pembangunan industri pengolahan yang terintegrasi, besarnya cadangan bauksit tidak akan memberikan dampak signifikan bagi perekonomian nasional.

Rizal menekankan, hilirisasi bauksit dan alumina yang terintegrasi menjadi kunci untuk menjembatani kesenjangan antara kepemilikan sumber daya alam dan kebutuhan industri. Dalam konteks tersebut, peran Holding Industri Pertambangan Indonesia, MIND ID, dinilai strategis dalam membangun ekosistem industri dari hulu hingga hilir secara berkelanjutan.

MIND ID melalui PT Aneka Tambang Tbk mampu memproduksi bauksit secara mandiri untuk memasok kebutuhan Smelter Grade Alumina Refinery (SGAR) di Mempawah, Kalimantan Barat. Selanjutnya, alumina yang dihasilkan diproses menjadi aluminium oleh PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum), yang juga merupakan bagian dari Holding MIND ID.

Penguatan rantai pasok terintegrasi ini diarahkan untuk menopang pemenuhan kebutuhan aluminium nasional yang mencapai 1,2 juta ton per tahun, sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap impor bahan baku strategis. Selain itu, integrasi hulu–hilir juga dinilai mampu menciptakan nilai tambah yang lebih besar, membuka lapangan kerja, serta memperkuat daya saing industri manufaktur nasional.

Read Entire Article
Food |