HUT ke-81 RI dan Makna Kemerdekaan Palestina

3 hours ago 4

Oleh: Oleh: Prof. Dr. dr. Basuki Supartono, SpOT, FICS, MARS, Peneliti Pusat Studi Bencana UPN Veteran Jakarta, Unsur Pengarah Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB)

REPUBLIKA.CO.ID, Pukul 08.00 waktu Kairo, kami tiba di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Mesir untuk mengikuti upacara peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia. Pagi itu, Kairo cerah dan bersahabat. Merah Putih berkibar. Di negeri yang jauh dari Tanah Air, rasa kebangsaan justru terasa begitu dekat.

Namun, di tengah kekhidmatan upacara, pikiran saya tertuju pada satu kalimat mendasar dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945:“Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa...”

Bukan hanya bangsa Indonesia. Bukan hanya bangsa-bangsa yang kuat, kaya, atau memiliki sekutu besar. Jika kita sungguh-sungguh meyakini kalimat tersebut, maka kemerdekaan juga merupakan hak bangsa Palestina.

Dari upacara kemerdekaan ke Gaza

Beberapa hari sebelum peringatan kemerdekaan ini, kami berada di Kairo untuk melatih tenaga kesehatan dalam teknik perawatan luka. Tujuannya sederhana tetapi penting: meningkatkan kemampuan tenaga kesehatan agar dapat memberikan pelayanan yang lebih berkualitas, termasuk kepada pasien warga Gaza yang mengalami luka kronis dan kompleks.

Apa yang kami saksikan mengingatkan bahwa penderitaan Gaza bukan sekadar angka. Namun, angka tetap penting karena menunjukkan besarnya skala tragedi kemanusiaan yang terjadi. 

Berdasarkan Daily Statistical Report Palestinian Ministry of Health – Gaza, 15 Agustus 2026, dalam 48 jam sebelumnya terdapat dua korban meninggal dan 14 orang terluka yang masuk ke rumah sakit di Jalur Gaza. Laporan tersebut juga menyebutkan masih terdapat korban yang terperangkap di bawah reruntuhan dan di jalan karena tim ambulans serta pertahanan sipil belum dapat menjangkau mereka.

Sejak periode gencatan senjata yang dalam laporan tersebut disebut dimulai pada 11 Oktober, tercatat 1.262 korban meninggal, 4.168 orang terluka, dan 808 jenazah ditemukan. Secara kumulatif sejak 7 Oktober 2023, Palestinian Ministry of Health – Gaza melaporkan 73.391 korban meninggal dan 174.280 korban luka.

Angka-angka itu tidak boleh membuat kita kehilangan sensitivitas.Di balik setiap angka ada manusia. Ada anak, ibu, ayah, keluarga. Ada cita-cita, ada masa depan yang terputus.

Sebagai dokter, kami memahami bahwa dampak perang tidak berhenti ketika seseorang berhasil diselamatkan dari fase akut. Banyak pasien harus melanjutkan hidup dengan luka kronis, patah tulang, infeksi, kerusakan jaringan, cedera saraf dan otak, amputasi, disabilitas, kanker, serta berbagai kondisi lain yang membutuhkan pengobatan dan rehabilitasi jangka panjang.

Itulah sebabnya peningkatan kapasitas tenaga kesehatan menjadi penting. Pasien tidak hanya membutuhkan pertolongan untuk bertahan hidup, tetapi juga pelayanan kesehatan yang berkualitas agar dapat menjalani kehidupan selanjutnya dengan martabat.

Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.

Read Entire Article
Food |