REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Irwin Ananta Vidada, Dosen Program Studi Manajemen, Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI)
Sepanjang tahun 2025, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menorehkan tonggak historis yang mengesankan. Tidak kurang dari 24 kali rekor tertinggi sepanjang masa (all time high/ATH) berhasil dicetak, dengan puncak absolut mencapai 8.776,97, sebelum akhirnya mengalami koreksi yang relatif sehat menjelang penutupan tahun. Bagi sebagian pelaku pasar, rangkaian rekor ini dipandang sebagai penegasan bahwa pasar saham Indonesia berada dalam fase optimisme yang kuat dan solid.
Namun, sebagaimana lazimnya dalam dinamika pasar modal, kenaikan indeks tidak selalu identik dengan peningkatan kualitas pasar secara menyeluruh. Jika dicermati lebih dalam, reli IHSG sepanjang 2025 menunjukkan karakter yang sangat kental dengan dominasi saham-saham konglomerasi.
Penguatan indeks banyak ditopang oleh segelintir emiten berkapitalisasi besar yang menjadi pusat perhatian investor. Di sisi lain, tidak sedikit saham dengan fundamental yang solid—neraca keuangan sehat, arus kas stabil, serta kinerja laba yang konsisten—masih bergerak relatif datar dan belum sepenuhnya ikut terangkat.
Situasi ini sejatinya bukan fenomena baru. Pada fase rekor IHSG sebelumnya, penulis telah menyoroti bahwa penguatan indeks kerap menciptakan ilusi kekuatan pasar. Kala itu, IHSG memang menembus level tertinggi historis, tetapi kenaikannya lebih banyak digerakkan oleh konsentrasi pergerakan saham tertentu dan kekuatan narasi, bukan oleh peningkatan nilai intrinsik yang merata.
Pola serupa kembali terlihat menjelang penutupan 2025, dengan aktor yang relatif sama—yakni saham-saham konglomerasi—namun dalam skala yang lebih besar dan intensitas yang lebih tinggi.
Pertanyaan pun mengemuka: apakah dominasi saham-saham tersebut akan terus berlanjut, atau justru pasar mulai melakukan rasionalisasi dengan kembali memberi ruang bagi saham-saham berfundamental kuat yang masih diperdagangkan pada valuasi menarik?
Ketika Indeks Naik, Nilai Belum Tentu Mengikuti
Kenaikan indeks sering kali memunculkan keyakinan bahwa “pasar sedang baik-baik saja”. Padahal, indeks pada hakikatnya hanyalah agregasi harga, bukan ukuran nilai. Charlie Munger, investor legendaris dan mitra lama Warren Buffett, sejak lama mengingatkan bahwa pasar saham dalam jangka pendek lebih menyerupai mesin voting—yang mengukur popularitas dan persepsi—ketimbang mesin penimbang yang menilai nilai sejati sebuah bisnis.
Pandangan Munger tersebut terasa sangat relevan dalam membaca kondisi IHSG saat ini. Ketika segelintir saham besar dengan narasi kuat mendominasi pergerakan indeks, sementara mayoritas saham lain tertinggal, yang patut diwaspadai adalah ilusi kinerja. Indeks tampak perkasa, tetapi peluang investasi yang benar-benar rasional tidak selalu sebanding dengan kenaikan tersebut.

18 hours ago
4















































