IMF Pangkas Proyeksi Ekonomi RI 2026, Rupiah Tertekan

11 hours ago 10

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS melanjutkan tren pelemahan di atas level Rp 17.000 per dolar AS. Mata uang Garuda semakin tertekan seiring dengan outlook International Monetary Fund (IMF) atau Dana Moneter Internasional yang memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 lebih lambat.

Mengutip Bloomberg, rupiah melemah 16 poin atau 0,09 persen menuju level Rp 17.143 per dolar AS pada penutupan perdagangan Rabu (15/4/2026). Pada perdagangan sebelumnya, rupiah berada di posisi Rp 17.127 per dolar AS.

Pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi berpendapat, proyeksi terbaru IMF soal pertumbuhan ekonomi Indonesia menjadi salah satu sentimen internal yang memengaruhi tertekannya nilai tukar rupiah.

“IMF memproyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 mencapai 5 persen. Angka ini lebih rendah ketimbang laporan IMF Januari lalu yang memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia akan mencatatkan kenaikan 5,1 persen. Sedangkan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2027 di 5,1 persen,” kata Ibrahim dalam keterangan tertulis kepada wartawan, Rabu (15/4/2026).

Tak cuma Indonesia, IMF juga memproyeksikan pertumbuhan ekonomi global yang melambat menjadi 3,1 persen pada 2026. Hal tersebut dikarenakan pecahnya perang di Timur Tengah tahun ini, setelah perekonomian sempat bertahan dari hambatan perdagangan tahun lalu.

“IMF bukan satu-satunya lembaga yang menurunkan proyeksi Indonesia. Sebelumnya World Bank alias Bank Dunia menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia menjadi 4,7 persen pada 2026. Angka ini lebih rendah jika dibandingkan dengan proyeksi Bank Dunia pada Oktober 2025 yang mencapai 4,8 persen,” terangnya.

Sementara itu, Asian Development Bank (ADB) memperkirakan ekonomi Indonesia tumbuh stabil 5,2 persen pada 2026 dan 2027. Kuatnya permintaan domestik dan belanja infrastruktur menjadi penopang utama stabilitas ekonomi di kawasan Asia Tenggara, terutama Indonesia.

“Perlambatan ini dipengaruhi oleh tekanan eksternal, terutama kenaikan harga minyak global akibat perseteruan antara AS dan Israel dengan Iran yang berdampak terhadap blokade Selat Hormuz serta meningkatnya sentimen kehati-hatian investor di pasar keuangan internasional (risk-off sentiment),” jelasnya.

Ibrahim melanjutkan, sentimen eksternal yang memengaruhi pelemahan nilai tukar rupiah tidak lain adalah dinamika ketidakpastian global akibat eskalasi perang di Timur Tengah yang masih terus bergulir.

Ia menerangkan, kabar terbaru, Komando Pusat AS menyatakan dalam sebuah unggahan media sosial bahwa blokade pelabuhan Iran telah “sepenuhnya diterapkan” dan bahwa pasukan AS telah “sepenuhnya menghentikan perdagangan ekonomi yang masuk dan keluar Iran melalui laut”. Langkah tersebut terjadi hanya dua hari setelah AS memulai blokade lautnya terhadap Iran, yang bertujuan untuk menekan Teheran agar menerima kesepakatan gencatan senjata. Hal ini terjadi setelah pembicaraan gencatan senjata AS–Iran di Pakistan berakhir tanpa kesepakatan.

Read Entire Article
Food |