Ini Alquran Bersejarah yang Dipakai di Pelantikan Zohran Mamdani

10 hours ago 6

REPUBLIKA.CO.ID, NEW YORK – Zohran Mamdani, wali kota New York terpilih akhirnya meletakkan tangannya di atas dua Alquran dalam upacara pelantikannya di stasiun kereta bawah tanah, Kamis (1/12/2026). Selain Alquran milik kakeknya ia juga bersumpah dengan Alquran versi saku yang berasal dari akhir abad ke-18 atau awal abad ke-19. 

Alquran ini adalah bagian dari koleksi di Pusat Penelitian Budaya Kulit Hitam Schomburg di Perpustakaan Umum New York. Salinan Alquran itu melambangkan keberagaman dan jangkauan umat Islam di kota tersebut, kata Hiba Abid, kurator perpustakaan untuk Studi Timur Tengah dan Islam. 

“Ini adalah Alquran kecil, tapi menyatukan unsur-unsur iman dan identitas dalam sejarah Kota New York,” kata Abid dilansir the Associated Press. Untuk upacara pengambilan sumpah selanjutnya di Balai Kota pada hari pertama tahun ini, Mamdani akan menggunakan Alquran milik kakek dan neneknya.

Naskah Alquran dari perpustakaan New York tersebut diperoleh oleh Arturo Schomburg, seorang sejarawan kulit hitam Puerto Rico yang koleksinya mendokumentasikan kontribusi global orang-orang keturunan Afrika. Meskipun tidak jelas bagaimana Schomburg bisa memiliki Al-Quran, para ahli percaya bahwa hal itu mencerminkan ketertarikannya pada hubungan historis antara Islam dan budaya kulit hitam di Amerika Serikat dan di seluruh Afrika. 

Tidak seperti manuskrip keagamaan yang penuh hiasan yang diasosiasikan dengan keluarga kerajaan atau elit, salinan Alquran yang akan digunakan Mamdani memiliki desain yang sederhana. Jilidnya berwarna merah tua dengan medali bunga sederhana dan ditulis dengan tinta hitam dan merah. 

Naskahnya jelas dan mudah dibaca, menunjukkan bahwa itu dibuat untuk penggunaan sehari-hari dan bukan untuk tampilan seremonial. Ciri-ciri tersebut menunjukkan bahwa naskah tersebut ditujukan untuk pembaca biasa, kata Abid, sebuah kualitas yang ia gambarkan sebagai inti dari maknanya. “Pentingnya Alquran ini bukan terletak pada kemewahannya, tapi pada keterjangkauannya,” katan dia.

Karena manuskrip tersebut tidak bertanggal dan tidak bertanda tangan, para ahli mengandalkan penjilidan dan naskahnya untuk memperkirakan kapan manuskrip tersebut diproduksi. Mereka memperkirakan manuskrip tersebut terjadi pada akhir abad ke-18 atau awal abad ke-19 pada masa Ottoman di wilayah yang mencakup Suriah, Lebanon, Israel, wilayah Palestina, dan Yordania. 

Abid mengatakan, perjalanan naskah ke New York mencerminkan latar belakang Mamdani yang berlapis-lapis. Mamdani adalah warga New York Asia Selatan yang lahir di Uganda, sedangkan Rama Duwaji, istrinya adalah warga Amerika-Suriah.

Setelah pelantikan, Alquran itu akan dipajang di Perpustakaan Umum New York. Abid mengatakan dia berharap perhatian seputar upacara tersebut – baik yang mendukung atau kritis – akan mendorong lebih banyak orang untuk menjelajahi koleksi perpustakaan yang mendokumentasikan kehidupan Islam di New York, mulai dari musik Armenia dan Arab awal abad ke-20 yang direkam di kota tersebut hingga kisah langsung tentang Islamofobia setelah serangan 11 September. 

“Naskah ini dimaksudkan untuk digunakan oleh pembaca awam pada saat diproduksi,” kata Abid. “Saat ini ia berada di perpustakaan umum di mana siapapun dapat menemukannya.”

Read Entire Article
Food |