Investasi Kendaraan Listrik Gagal, Honda Catat Kerugian Pertama dalam 70 Tahun

7 hours ago 7

Logo Mobil Honda yang dipamerkan saat Ajang Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2024 di ICE BSD, Tangerang, Banten.

REPUBLIKA.CO.ID, TOKYO -- Raksasa otomotif Jepang, Honda, mencatat kerugian tahunan pertamanya dalam 70 tahun setelah investasi besar perusahaan di pasar kendaraan listrik atau electric vehicle (EV) gagal memberikan hasil sesuai harapan. Permintaan kendaraan listrik disebut tidak sekuat yang diperkirakan sebelumnya. Dikutip dari BBC, Jumat (15/5/2026), Honda melaporkan total kerugian operasional sebesar 423 miliar yen atau sekitar Rp 45,6 triliun pada tahun fiskal yang berakhir Maret 2026. 

Perusahaan menyatakan akan memangkas sejumlah target produksi kendaraan listrik dan mulai memasok komponen dari China yang menawarkan harga lebih murah guna menekan biaya produksi.

Honda juga menyebut perubahan kebijakan di Amerika Serikat ikut memperbesar tekanan terhadap kinerja perusahaan, termasuk penghapusan insentif pajak bagi konsumen kendaraan listrik serta penerapan tarif impor kendaraan dan suku cadang.

Sebelumnya, konsumen di Amerika Serikat dapat memperoleh insentif pajak hingga 7.500 dolar AS atau sekitar Rp 127,5 juta untuk pembelian kendaraan listrik baru. Namun kebijakan tersebut dihentikan Presiden Donald Trump pada September 2025.

Tarif impor kendaraan dan suku cadang yang diberlakukan pemerintah AS pada 2025 juga memukul keuntungan sejumlah produsen otomotif besar, meskipun tarif telah diturunkan dari 25 persen menjadi 15 persen.

Honda yang pertama kali melantai di bursa saham pada 1957 kini menjadi produsen mobil terbesar kedua di Jepang. Namun analis menilai ukuran perusahaan yang besar dan karakter industri lama membuat Honda sulit beradaptasi cepat terhadap perubahan permintaan kendaraan listrik yang sangat dinamis.

Perusahaan kini akan memfokuskan pertumbuhan pada bisnis sepeda motor, layanan finansial, serta produksi kendaraan hibrida yang selama ini dinilai lebih stabil.

Honda juga menyebut Amerika Utara, Jepang, dan India sebagai pasar prioritas untuk pertumbuhan di masa depan. Meski demikian, perusahaan menunda rencana pembangunan pabrik kendaraan listrik dan baterai di Kanada.

Chief Executive Officer (CEO) Honda Toshihiro Mibe mengatakan perusahaan membatalkan target kendaraan listrik menyumbang seperlima penjualan mobil baru pada 2030. Ia juga menyampaikan Honda tidak lagi mempertahankan target seluruh kendaraan produksinya menjadi kendaraan listrik penuh pada 2040.

Honda memperkirakan kerugian terkait bisnis kendaraan listrik akan mencapai 512 miliar yen atau sekitar Rp 55,2 triliun pada tahun fiskal berikutnya yang berakhir Maret 2027.

Read Entire Article
Food |