Presiden China Xi Jinping dan Presiden AS Donald Trump menghadiri upacara penyambutan di Aula Besar Rakyat di Beijing, 14 Mei 2026.
REPUBLIKA.CO.ID, BEIJING — Pemerintah Republik Rakyat China pada Jumat(15/5/2026) secara resmi menegaskan kembali posisi jangka panjangnya terhadap Iran. Langkah ini diambil guna menanggapi spekulasi dan laporan yang simpang siur mengenai sikap Beijing di tengah ketegangan regional baru-baru ini.
Kementerian Luar Negeri China menerbitkan pernyataan lengkap yang menguraikan posisi resminya secara terperinci. Sejumlah sumber diplomatik Asia mengungkapkan kepada Al Mayadeen bahwa Washington diperkirakan akan terus mempromosikan klaim bahwa pihaknya berhasil membujuk Beijing untuk menekan Iran. Hal ini terutama mencuat setelah diskusi AS-China baru-baru ini mengenai status Selat Hormuz dan berkas nuklir Iran.
Sumber-sumber tersebut menyebutkan bahwa meningkatnya retorika Amerika terkait "isu nuklir Iran" atau klaim mengenai kesepakatan dengan Beijing untuk menjaga Selat Hormuz tetap terbuka "tanpa biaya" hanyalah "upaya membanjiri media untuk menutupi esensi masalah yang sebenarnya."
Para diplomat tersebut menekankan, posisi China terhadap Iran "sangat jelas dan tidak berubah." Mereka juga membantah laporan yang mengisyaratkan adanya pergeseran sikap Beijing. Mereka mencatat bahwa China sengaja menahan diri untuk tidak membahas masalah Iran secara terbuka dalam pembicaraan awal, sebelum akhirnya mengeluarkan pernyataan resmi melalui Kementerian Luar Negeri.
Beijing menegaskan tetap menentang kepemilikan senjata nuklir, namun di saat yang sama mendukung hak Iran untuk menggunakan uranium dan teknologi nuklir untuk tujuan sipil yang damai. China juga mempertahankan posisi lamanya yang mendukung dibukanya Selat Hormuz dan mencegah militerisasi di jalur tersebut, sembari menghormati hak-hak Iran sebagai negara pesisir yang berbatasan langsung dengan perairan strategis itu.
Terkait isu energi, sumber tersebut menambahkan, langkah China membeli minyak atau gas dari Amerika Serikat bukanlah hal baru karena Beijing memang melakukan diversifikasi sumber energi. Namun, ditegaskan bahwa tidak ada yang dapat menggantikan minyak Iran atau impor energi melalui Hormuz, yang mencakup 45 persen dari total kebutuhan energi China.

3 hours ago
2












































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5210295/original/020455400_1746503932-cef51a0b-171c-465c-b961-0b620c5bafe2.jpg)


