Kapal kargo berbendera Thailand Mayuree Naree terbakar setelah terkena rudal Iran di Selat Hormuz (ilustrasi).
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Iran menunjukkan kendalinya atas Selat Hormuz pada Kamis (23/4/2026) setelah perundingan damai dengan Amerika Serikat gagal. Teheran merilis video pasukan komando yang menyerbu kapal kargo besar, menegaskan dominasi mereka atas jalur pelayaran vital dunia itu.
Televisi pemerintah Iran menayangkan rekaman pasukan bertopeng yang mendekati kapal MSC Francesca dengan perahu cepat. Mereka memanjat lambung kapal menggunakan tangga tali sambil mengacungkan senjata. Rekaman itu juga menampilkan kapal lain, Epaminondas. Iran mengklaim kedua kapal ditahan karena melintas tanpa izin.
Di sisi lain, Washington menyatakan telah menaiki kapal tanker lain, Majestic, di Samudra Hindia. Kapal tersebut diduga membawa sekitar dua juta barel minyak mentah. Langkah ini menunjukkan ketegangan di laut masih terus berlangsung meski ada upaya diplomatik.
Sejak perang dengan AS dan Israel pecah pada Februari, Iran secara efektif membatasi akses Selat Hormuz bagi kapal asing. Situasi makin tegang setelah pembicaraan damai terakhir gagal dilanjutkan. Meski demikian, Iran masih membuka kemungkinan menghadiri pertemuan baru di Pakistan, dengan syarat blokade AS dicabut dan kapal mereka dibebaskan.
Presiden AS Donald Trump mengklaim Washington mengendalikan penuh selat tersebut. Namun, data perusahaan analitik menunjukkan ekspor minyak Iran tetap berjalan. Dalam sepekan terakhir, jutaan barel minyak Iran masih melewati jalur itu tanpa hambatan berarti.
Ketegangan ini mulai berdampak pada ekonomi global. Harga energi meningkat, sementara aktivitas industri dan jasa melambat. Trump bahkan memerintahkan angkatan laut untuk menindak tegas kapal Iran yang memasang ranjau, meski tak merinci langkah lain yang dihadapi di lapangan.
Dari Teheran, pejabat tinggi menegaskan kapal yang disita akan diproses sesuai hukum. Iran juga disebut mulai menarik pendapatan dari kapal yang melintas. Namun, mereka menegaskan tidak akan membuka selat sepenuhnya sebelum AS mencabut blokade yang dianggap melanggar gencatan senjata.
Situasi di dalam negeri Iran pun masih tegang. Warga hidup di antara bayang-bayang konflik baru setelah berminggu-minggu serangan. Upaya diplomasi masih berjalan, termasuk rencana pembicaraan di Pakistan, meski belum ada kepastian kehadiran Iran.
Di tengah kebuntuan, pasar global bergerak fluktuatif. Harga minyak kembali naik, sementara bursa saham bergerak beragam di berbagai negara. Hingga kini, tujuan utama Washington dalam konflik ini, yakni menekan kemampuan militer dan nuklir Iran, belum sepenuhnya tercapai.
sumber : Reuters

3 hours ago
5











































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5455219/original/006121400_1766639015-IMG-20251002-WA0019.jpg)





