Israel Masih Serang Palestina, Dompet Dhuafa: Atensi Masyarakat Indonesia Perlu Terus Didorong

1 week ago 6

REPUBLIKA.CO.ID, DEPOK – Ketua Yayasan Dompet Dhuafa Ahmad Juwaini mengungkapkan tingginya pengumpulan dana atau crowdfunding yang dilakukan selama 30 hari untuk para korban bencana di Sumatera, yakni mencapai hingga Rp 22 miliar. Angka tersebut hampir dua kali lipat dibandingkan hasil pengumpulan dana untuk Palestina atas serangan 7 Oktober 2023 yang dilakukan zionis Israel.

Tanpa bermaksud mendeskreditkan atau membandingkan sebatas angka, data tersebut menggambarkan, atensi masyarakat Indonesia terhadap Palestina memang perlu untuk terus didorong. Mengingat, serangan Israel terhadap Palestina masih terus saja bergulir.

“Ada fakta bahwa pengumpulan dana banjir untuk Sumatera hampir dua kali lipat dalam waktu 30 hari mulai 26 November 2025. Dibandingkan pengumpulan dana waktu terjadi serangan Gaza pada 7 Oktober 2023 (selama 30 hari juga). Kami mengumpulkan Rp 22 miliar untuk banjir Sumatera. Lalu waktu Palestina antara Rp 12—15 miliar. Ini PR juga sih untuk dibangkitkan lagi,” ungkap Ahmad dalam agenda Tabligh Akbar dan Dzikir Nasional Akhir Tahun 2025 yang digelar Republika di Masjid At-Thohir, Depok, Jawa Barat, Rabu (31/12/2025).

Menurut pengamatan Ahmad, isu Palestina sebagai isu solidaritas perjuangan memang terbilang masuk jajaran top one. Namun isu Palestina tidak sekuat itu dibandingkan dengan isu bencana seperti banjir dan longsor yang terjadi di Sumatera.

“Mungkin juga dianggapnya karena Palestina itu negara yang jauh, tidak sedekat itu dibanding misalnya antarpulau di Indonesia karena perlu dibantu sesama bangsa Indonesia.

Ahmad berharap, justru dengan semangat masyarakat Indonesia yang seperti itu (solidaritas tinggi), diharapkan juga diterapkan dengan lebih maksimal untuk masyarakat Palestina.

“Kalau kita melihat dari sudut pandang dukungan terhadap Palestina, harusnya yang begini juga bisa dilakukan atau bisa dikembangkan. Maksudnya, bisa terwujud di isu Palestina juga, bukan hanya isu banjir dan longsor di Sumatera,” terangnya.

Di samping itu juga, ia berpandangan, konflik Palestina-Israel telah terjadi cukup panjang sejak lama. Kondisinya pun cukup fluktuatif (naik dan turun). Sementara itu, isu seperti banjir dan longsor di Sumatera merupakan isu yang cenderung lebih hangat dan menarik atensi masyarakat lebih luas.

“Bisa jadi karena isu itu sudah panjang, ibaratnya kalau tenaga itu kayak sudah mulai turun, enggak lagi sesuatu yang hits. Sementara kalau banjir kan baru, lebih kuat dan luar biasa,” kata Ahmad.

Ahmad berharap, masyarakat tetap dan terus memberikan perhatian pada isu Palestina dengan semangat rasa kemanusiaan dan solidaritas. Mengingat penderitaan yang dialami rakyat Palestina sangat memilukan.

Read Entire Article
Food |