Presiden Venezuela Nicolas Maduro bersama istrinya Cilia Flores, tiba di Heliport Wall Street untuk dibawa ke gedung pengadilan federal di New York, AS, Senin (5/1/2026).
REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON -- Rencana Amerika Serikat (AS) menyerang Venezuela dan menculik Presiden Nicolas Maduro pada Sabtu (3/1/2026) ternyatakan telah dibocorkan Donald Trump kepada para bos perusahaan minyak AS sebulan sebelumnya. Seperti dilaporkan The Wall Street Jorunal (WSJ) yang dilansir Sputnik, Selasa (6/1/2026), Trump memberi isyarat lewat pesan singkat kepada para CEO, "bersiaplah."
Sumber-sumber WSJ menyebutkan bahwa Trump hanya menyampaikan satu isyarat tanpa penjelasan lebih lanjut. Ia juga tidak meminta pandangan para CEO terkait kemungkinan investasi di ladang minyak Venezuela, yang justru diumumkannya secara terbuka setelah serangan terjadi.
Isyarat Trump yang disampaikan sebulan lalu tersebut menunjukkan peran sentral minyak dalam keputusan berani dan berisiko yang ia ambil, tulis surat kabar itu. Pada Senin (5/1/2026), Trump menyatakan bahwa perusahaan-perusahaan minyak Amerika Serikat sangat tertarik untuk beroperasi di Venezuela dan akan berinvestasi dalam infrastruktur negara tersebut.
Pada 3 Januari, Amerika Serikat melancarkan serangan besar-besaran ke Venezuela dan menangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro bersama istrinya, Cilia Flores, lalu membawa keduanya ke New York. Trump mengumumkan bahwa Maduro dan Flores akan diadili atas dugaan keterlibatan dalam “narko-terorisme” serta dianggap sebagai ancaman, termasuk bagi Amerika Serikat.
Kementerian Luar Negeri Rusia menyatakan solidaritas dengan rakyat Venezuela. Moskow menyerukan pembebasan Nicolas Maduro dan Cilia Flores, serta meminta agar tidak terjadi eskalasi lebih lanjut dari situasi tersebut.
sumber : Antara, Sputnik/RIA Novosti, Anadolu

4 days ago
5















































