
Oleh : Azis Subekti, Anggota DPR RI Komisi II, Fraksi Gerindra, Daerah Pemilihan Jawa Tengah VI.
REPUBLIKA.CO.ID, Pada suatu masa ketika ilmu mulai diperebutkan dan kebenaran diperlakukan seperti barang dagangan, seorang lelaki memilih jalan yang paling tidak menguntungkan secara duniawi. Ia menempuhnya tanpa sorak, tanpa jaminan. Yang ia jaga hanya satu: amanah kebenaran. Dari situlah jejak Imam Bukhari bermula—sunyi, panjang, dan menuntut keberanian yang tidak banyak dimiliki manusia.
Sejak usia belia, hidupnya adalah perjalanan. Bukhara, Makkah, Madinah, Kufah, Basrah, Baghdad, Syam—nama-nama itu bukan sekadar kota, melainkan jejak ketekunan. Ia menempuh jarak yang melelahkan demi satu hadis, menunggu berhari-hari demi satu kepastian. Tubuhnya berjalan jauh, tetapi yang sesungguhnya ia tempuh adalah perjalanan batin: menaklukkan hasrat untuk cepat, menahan keinginan untuk diakui.
Ia menghafal ratusan ribu hadis, namun hanya segelintir yang ia izinkan tinggal dalam tulisannya. Bukan karena kurang data, melainkan karena terlalu banyak yang harus ia singkirkan. Setiap hadis ia uji, bukan hanya sanadnya, tetapi juga akhlak manusianya. Pernah suatu hari ia mendapati seorang perawi mengelabui hewan tunggangannya dengan isyarat palsu. Imam Bukhari berbalik arah. Ia tidak mengambil hadis itu. Bagi sebagian orang, ini berlebihan. Bagi Imam Bukhari, satu kebohongan kecil sudah cukup untuk menggugurkan kepercayaan. Di situlah keteladanan itu menghentak tanpa suara.
Ia tidak menawar kejujuran demi kemudahan. Ia tidak melonggarkan standar demi penerimaan. Ia menulis setelah berwudhu, berdoa, dan bergulat lama dengan keraguannya sendiri. Ia membuang lebih banyak daripada yang ia simpan. Dari lautan riwayat, ia memilih yang paling jernih—bukan yang paling ramai dipakai.
Namun keteguhan seperti itu tidak selalu disambut hormat. Ketika ilmu mulai bersinggungan dengan kepentingan, tekanan datang perlahan. Ia dipinggirkan, difitnah, bahkan dijauhkan dari kota yang dicintainya. Tetapi ia tidak berteriak. Tidak pula menjual luka. Ia memilih diam, menjaga jarak, dan terus setia pada laku yang sama. Ilmu, baginya, tidak boleh menjadi alat—apalagi alat kekuasaan, popularitas, atau harta.
Lalu kita tiba pada hari ini.
Di zaman ketika nama Nabi ﷺ kerap disebut dengan ringan, bahkan diseret ke panggung-panggung kepentingan, jejak Imam Bukhari terasa seperti teguran yang tajam. Betapa mudah manusia mengutip sabda tanpa verifikasi, menyandarkan ucapan pada Nabi demi pengaruh, demi tepuk tangan, demi legitimasi, bahkan demi uang. Kebohongan tidak lagi disembunyikan—ia dibungkus narasi, disebarkan cepat, dan dipertahankan dengan percaya diri.
Di hadapan kenyataan itu, hidup Imam Bukhari menjadi cermin yang tidak ramah. Ia bertanya tanpa suara: bagaimana mungkin kita berani berbicara atas nama Nabi, jika untuk jujur pada diri sendiri saja kita sering gagal? Bagaimana mungkin satu hadis disebar tanpa tanggung jawab, sementara dahulu ada manusia yang menempuh ribuan kilometer hanya untuk memastikan satu kalimat benar-benar layak dinisbatkan kepada Rasul?
Warisan Imam Bukhari bukan sekadar sebuah kitab agung—sebagaimana direfleksikan dalam Jejak Agung Imam Bukhari—melainkan sebuah sikap hidup yang menuntut keberanian moral. Keberanian untuk menahan diri. Untuk berkata, aku tidak tahu. Untuk memilih kehilangan pengaruh daripada kehilangan kejujuran.
Jejak itu hari ini terasa semakin sunyi, tetapi justru karena itulah ia penting. Ia mengingatkan bahwa membela Nabi bukan dengan memperbanyak klaim, melainkan dengan menjaga kebenaran dari kebohongan. Bahwa mencintai Rasul bukan dengan mengatasnamakan beliau demi dunia, melainkan dengan meneladani amanahnya.
Dan di tengah hiruk-pikuk zaman yang gemar memelintir kebenaran, jejak Imam Bukhari tetap berjalan—pelan, tegas, dan bersih. Mengajak siapa pun yang mau berhenti sejenak untuk memilih: menjadi ramai dengan dusta, atau sunyi dengan kebenaran.

1 day ago
6










































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5344879/original/037827700_1757495713-Kota_Semarang.jpg)





