Jonan dan CEO Grab Soroti Kesenjangan Kampus-Industri, Kurikulum Bisnis Diminta Berubah

9 hours ago 8

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Dunia pendidikan tinggi dinilai perlu segera mengubah pendekatan pembelajaran untuk menjawab perubahan kebutuhan industri. Keterlibatan praktisi, penguatan keterampilan nonteknis, hingga pengalaman langsung dosen di dunia usaha dinilai semakin penting di tengah pesatnya perkembangan kecerdasan buatan atau AI.

Hal tersebut mengemuka dalam CEO Talks 2026: Shaping the Future of Business Education yang digelar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga di Tugu Kunstkring Paleis, Menteng, Jakarta.

Dua tokoh bisnis yang hadir, Ignasius Jonan dan CEO Grab Indonesia Neneng Goenadi, sama-sama menyoroti masih adanya kesenjangan antara pendidikan yang diberikan perguruan tinggi dan kompetensi yang dibutuhkan dunia kerja.

Jonan menilai salah satu perubahan yang perlu dilakukan adalah memperbesar keterlibatan praktisi dalam proses pendidikan. Menurut dia, sedikitnya sepertiga tenaga pengajar di perguruan tinggi, terutama pada program pascasarjana, seharusnya berasal dari kalangan praktisi yang relevan dengan kebutuhan industri.

Praktisi, kata Jonan, dapat terlibat sebagai dosen pengampu mata kuliah utama maupun asisten pengajar. Kehadiran mereka dinilai penting agar mahasiswa tidak hanya memperoleh teori, tetapi juga memahami persoalan nyata yang dihadapi dunia usaha.

Jonan juga menyoroti aspek kesejahteraan tenaga kependidikan. Menurut dia, perguruan tinggi tidak mungkin membangun kualitas pendidikan yang berkelanjutan apabila kesejahteraan orang-orang yang menjalankan institusi pendidikan masih diabaikan.

"Sistem pendidikan yang unggul tidak dapat berjalan tanpa kesejahteraan pengelola yang layak. Jika penghasilan dan kompensasi tidak mendukung, kualitas yang ditargetkan mustahil tercapai," kata Jonan.

Ia membandingkan pengelolaan tersebut dengan praktik di institusi pendidikan global seperti London Business School, yang menurutnya menempatkan kualitas sumber daya manusia sebagai salah satu fondasi utama pendidikan.

Sementara itu, CEO Grab Indonesia Neneng Goenadi menilai tantangan pendidikan tinggi menjadi semakin besar seiring meluasnya penggunaan AI. Menurut Neneng, akses terhadap teori dan pengetahuan formal kini semakin mudah. Mahasiswa dapat memanfaatkan berbagai teknologi berbasis AI untuk memperoleh informasi atau mempelajari konsep akademik dalam waktu singkat.

Kondisi tersebut membuat perguruan tinggi perlu menggeser fokus pendidikan menuju kemampuan yang tidak mudah digantikan teknologi.

"Transformasi ini sangat mendesak. Teori kini bisa dipelajari dari mana saja menggunakan AI, namun soft skills dan pengalaman praktis tidak dapat digantikan," kata Neneng.

Ia menyebut kemampuan interpersonal, berpikir kritis, beradaptasi, berkomunikasi, serta menyelesaikan persoalan nyata akan menjadi pembeda penting bagi lulusan ketika memasuki pasar kerja.

Karena itu, Neneng menilai program magang tidak cukup hanya diberikan kepada mahasiswa. Perguruan tinggi juga perlu membuka ruang bagi dosen untuk memperoleh pengalaman langsung di perusahaan melalui skema faculty immersion.

"Selain program magang mahasiswa yang berkualitas, para dosen juga perlu terjun langsung menjadi bagian dari dinamika perusahaan agar memiliki pemikiran yang lebih terbuka terhadap kebutuhan nyata industri," kata Neneng.

Menurut dia, pengalaman tersebut dapat membantu dosen memahami bagaimana teknologi, pola kerja, kebutuhan kompetensi, dan model bisnis berubah secara cepat.

sumber : Antara

Read Entire Article
Food |